Tittle: Devil
Paradise
Main cast: Cho
Kyuhyun , Park Hyuri
Rate: 16+
Lenght: Part
Auhtor: Lily Park
Fb: Nurillaiyah(LY)
Twitter: @magnolia2498
Genre: Love,
hurt, life drama
Sumary : Cinta yang selamanya tidak pernah ada, yang ada hanya pilihan selamanya.
~~~Please.. tinggalkan jejak kalian. Bantu mimin ya~~~
***
Kyuhyun
Saat aku berpikir itu sudah lebih dari terlambat. Sudah ada
berbagai macam hal yang terlanjur terjadi di antara kami. Tak ada lagi yang
dapat aku lakukan untuknya untuk saat ini. Saat ini aku hanya bisa berharap dia
akan mau menerima keputusanku apapun yang akan terjadi.
Sesungguhnya aku menginginkannya. Sangat menginginkannya.
“Menikahlah denganku”seruku saat kedua kakinya hampir
melewati pintu apartemenku.
Kakinya berhenti tepat setelah kata itu keluar dari mulutku.
Aku tak bisa menangkap ekspresinya saat itu. Tapi yang aku tau dengan pasti dia
mendengarnya. Mendengar setiap huruf yang aku ucapkan barusan. Dia pasti
mengerti apa yang aku inginkan.
“Tidak bisa”ucapnya tanpa berbalik.
“Aku tak akan bisa menikah denganmu. Aku tidak akan bisa
menjadi ibu dari anak-anakmu Kyuhyun. Aku tidak akan bisa membuatmu
bahagia”sambungnya. Aku hanya mampu bernafas dengan berat.
“Aku yakin kau bisa. Aku selalu yakin kau mampu bila bersama
denganku. Aku akan selalu bersamamu apapun yang akan terjadi. Percayalah
padaku”gadis itu berbalik. Terlihat butiran air mata jatuh ke bawah melewati
pipinya yang tirus.
“Aku tidak akan pernah bisa bersamamu walau dunia
mentakdirkan kita bersama”terangnya. Terasa ada ribuan jarum yang melayang
kearah hatiku dan menancap. Sangat menyakitkan.
“Kyuhyun…aku sangat mencintaimu”suara seraknya terdengar.
Aku hanya bisa menatap kedua matanya dari jauh. Mata yang bulat hitam itu basah
karena air mata yang tak kunjung berhenti. Tangannya berusaha menghambatnya
tapi sia-sia. Itu tetap menetes dengan derasnya.
***
“Bagaimana dengan yang ini?”tanya suara lembut di sampingku.
“Aku tidak yakin. Mungkin stroberi dengan campuran sedikit
lemon?”tebakku menelannya.
Gadis itu terkikik. Suaranya terdengar sangat merdu.
Meskipun mataku tidak melihatnya dia pasti sedang tersenyum menang kali ini.
Dia sedang menikmati perannya membuatku menjadi kelinci percobaannya.
“Es krim selanjutnya oppa”ucapnya dengan manis lalu sendok
dingin itu menghampiri mulutku lagi.
“Apa ini? Rasanya tidak asing?”tanyaku begitu mulai
menelannya.
Gadis itu tertawa.
“Menurutmu?”tanyanya meledek.
Aku kembali merasakannya. Dengan perasaan yang tidak biasa.
Seperti rasa yang tak pernah aku cicipi sebelumnya. Sepertinya sensasi yang
sangat ku benci. Rasa yang paling ku hindari. Rasanya seperti.. rasanya
seperti..
Lidahku merasakannya lagi dan lagi. Aku kembali menelannya.
Oh.. tidak.. ini pasti.. ini… buah ini..
“Apa ini?”aku akhirnya menghabiskan sisanya dalam mulutku.
“Benar oppa.. kau benar sekali. Kau baru saja menelannya.
Buah yang paling kau benci.. pisang”tawanya meledak.
Ada berbagai rasa cemas di dalam diriku. Aku baru saja
menelannya. Menelan pisang.. buah yang paling aku benci!
Aku membuka penutup mataku dengan kasar. Gadis itu tertawa
dengan kerasnya. Di sampingku pipinya
yang tirus berwarna merah muda. Kulitnya yang putih susu berubah karena
tawanya. Dia seperti tomat ceri. Seperti tomat ceri yang memerah.
“Ya… kenapa kau melakukannya?”eluhku padanya. Dia akhirnya
berhenti menertawakanku.
“Kau harus menyukainya saat menikah denganku nanti. Jadi
mulai sekarang kau harus mulai memakannya”jelasnya. Aku mengernyit.
“Siapa bilang kita akan menikah?”matanya melotot ke arahku.
Seperti tatapan beruang lapar.
“Jadi? Kau tak ingin menikahiku?”selidiknya.
“Mungkin.. mungkin tidak”jawabku asal. Sepertinya dia akan
marah besar.
“Yak!!! Kau jahat oppa!! Baiklah!! Kita tidak akan
menikah”aku tertawa melihatnya menggembungkan pipi kesal. Berpaling dari
pandanganku.
“Hyuri.. saranghae”dia
tetap mengacuhkannya.
***
Lagi-lagi dia terlambat. Terlambat memenuhi janjinya padaku.
Sudah hampir lima jam menunggunya membuatku sedikit kesal. Bukan hanya sekali.
Tapi berkali-kali dia selalu terlambat memenuhi janjinya padaku. Dia mulai
berubah sejak setahun terakhir.
Setahun terakhir sejak empat tahun hubungan kami.
“Maaf oppa.. ada sedikit urusan yang baru aku
selesaikan”terangnya begitu datang dan duduk di depanku.
Aku berusaha mengerti. Aku memahami pekerjaannya yang sangat
menyibukkannya belakangan ini. Dan berusaha tidak ikut campur di dalamnya. Aku
merelakannya karena prinsip hidupnya yang jauh berbeda dengan kehidupanku.
“Jadi kita akan melewatkannya?”tanyaku begitu dia selesai
menyeruput teh dalam cangkir porselen di depannya.
“Melewatkan? Oh.. tentu saja tidak oppa.. kita akan
melihatnya malam ini”jawabnya menantapku intens.
“Bisakah kita berangkat sekarang?”aku melihat jam di
pergelangan tanganku lalu beralih padanya.
“Baiklah. Kita masih punya dua jam lagi sebelum tengah
malam”ucapnya menarik tas tangan di sampingnya.
Di dalam mobilku hanya lagu-lagu ballad yang terdengar.
Suasana seoul tak seramai biasanya. Mungkin karena musim dingin yang baru saja
datang. Juga tahun yang akan berganti dalam beberapa jam. Jalanan yang biasanya
ramai mendadak lengang karenanya.
“Oppa.. bisakah kita makan teoppokki?”rajuknya. Aku
tersenyum.
Inilah gadisku yang sebenarnya. Gadis yang biasanya
bergelayut manja padaku dan merajuk setiap ada kesempatan. Gadis yang selalu
bisa membuatku tersenyum dan tertawa sepanjang waktu. Dia alasan terbesarku
bertahan dengan hubungan ini.
“Jadi kau ingin teoppokki?”dia mengangguk.
“Teoppoki yang sangat pedas”ucapnya menambahkan.
“Aku tidak mau makan teoppokki”godaku. Mata bulatnya
menatapku dan mulai mendekat padaku.
“Harus”bisiknya di telingaku. Dia tidak bisa di bantah.
“Yak!!! Aku sedang menyetir!!”teriakku. dia tertawa.
***
Tahun telah berganti. Tiga detik yang lalu kami meninggalkan
2014. Sekarang tahun 2015 menyapa.
Tahun kelima yang akan kami jalani bersama. Tahun yang
semakin terasa di hari-hariku. Akankah dia akan selalu bersamaku dan
menemaniku? Atau dia akan pergi meninggalkanku sendirian?
Tak ada yang tau.
“Oppa..”panggilnya.
Aku melihat dua matanya meneteskan air mata. Aku tidak tau
kenapa, tapi menyisakan sedikit rasa cemas dan khawatir di benakku. Apa yang
salah dengannya? Apa yang tidak aku mengerti darinya? Apakah aku melewatkan
sesuatu?
“Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”tanyaku. Anggukannya
menjawab.
“Apa itu?”lanjutku. gadis itu mendekat dan menarik tanganku
keluar dari kerumunan orang.
“Oppa.. aku harus pergi sekarang”terangnya. Aku mengeryit.
“Eomma.. dia ada di rumah sakit sekarang”lanjutnya. Dia
memelukku.
Tangannya melepaskan bahuku. Lalu dengan cepat berbalik
meninggalkan aku sendiri di bawah pohon maple tanpa daun. Angin yang bertiup
menegaskan dingin yang tak biasa. Salju yang turun di saat-saat dia pergi.
Seperti dia membawa sebagian hatiku.
“Hyuri..”tiba-tiba kakiku mengikutinya.
Pertama melangkah. Lalu mulai berlari mengejarnya. Tapi
sebuah mobil membawanya pergi. Aku melihat dengan jelas. Seorang laki-laki
membelai pipinya dan mengecup bibirnya singkat. Hal yang sama yang sering aku
lakukan.
“Hyuri..”suaraku memelan. Aku yakin dia tak akan
mendengarnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar