Selasa, 24 Mei 2016

FF Unlovable




Unlovable
Author: Lily Park
Length: Twoshoot
Genre: School, Love, Fantasi, etc .find by yourself.
Cast: Cho Kyuhyun, Zia Kim, Choi Siwon
Medsos:
-          Twitter: @magnolia2498
Add friend ne, silakan sapa saya dan share tentang ff bersama^^

Zia Kim
Inilah alasanku tidak pernah mengungkapkan identitasku yang sebanarnya, aku takut mereka akan kabur dan lari ketakutan jika mengetahui siapa diriku sebenarnya. Mareka akan menjauhiku dan menganggapku sebagai monster bahkan ada yang melihatku jijik. Oleh karena itu aku harus hidup dalam pelarian dan menyebunyikan jati diriku sebenarnya.
“Pulanglah ke Alaska,”Suara ibu begitu sedih saat aku menghubunginya.
Aku menghela nafasku dengan berat. Ia pasti sangat cemas saat ini. Dia akan lebih cemas saat tau apa yang baru saja aku alami. Ia akan sedih berkepanjangan karena membiarkanku hidup di Negara yang kejam ini sendirian.
“Aku tidak bisa pulang ibu, aku harus menemukan ayah”jawabku lalu memutus panggilan itu segera.
Maafkan aku ibu, aku tida bisa pulang sebelum semua rahasia ini terungkap.
*
Author
Zia Kim adalah gadis cantik yang sangat disukai di sekolahnya. Kepopulerannya mampu meluluhkan hati siapa saja dan membuat mereka jatuh cinta dalam sekali lihat. Hal itu juga berlaku pada seorang murid laki-laki seperti Kyuhyun. Gadis itu mampu membuatnya melupakan segalanya saat berada di sampingnya.
“Kau yakin baik-baik saja?”tanya Siwon.
“Tentu..aku baik-baik saja Hyung”jawabnya sambil berdiri dengan sendirinya.
Siwon tersenyum saat melihat Zia melintas di depan mereka, ialah sebab kenapa Kyuhyun terjatuh seperti itu. Pesona gadis itu membuatnya lupa akan segalanya, termasuk berjalan dengan baik menggunakan kedua kakinya.
“Berhentilah menatapnya, kedua matamu sudah hampir keluar”gurau Siwon saat mata Kyuhyun terus mengikuti Zia.
Kyuhyun berubah kikuk saat ulahnya tertangkap basah oleh Hyungnya. Kyuhyun kembali berjalan dengan normalnya, namun matanya masih terus mengikuti bayangan Zia yang berjalan lima langkah di depan mereka, lalu kedua matanya terfokus ke punggungnya. Punggung gadis itu memang  terlalu indah untuk dilewatkan.
“Kau! Zia!”panggil Siwon.
Zia menoleh secara mendadak membuat Kyuhyun tidak sengaja menatap langsung kearah matanya. Melihat itu Siwon tertawa dengan kejamnya sambil melambaikan tangannya pada gadis itu. Zia yang melihat keanehan Kyuhyun juga tidak bisa menahan tawanya, Kyuhyun benar-benar dalam keadaan  kikuk.
“Sunbae? Ada apa?”tanyanya setelah Kyuhyun dan Siwon berhasil mendekat.
“Dia ingin berkencan denganmu”seru Siwon.
“Ani…itu tidak benar”batah Kyuhyun dengan segera sambil melemparkan pandangan aneh pada Siwon.
“Baiklah..aku akan kencan denganmu, Cho Kyuhyun”
Zia tersenyum dengan manisnya sementara Kyuhyun hanya terdiam beku mendengar peryataan yang baru saja  keluar dari mulut gadis cantik berambut panjang itu. Siwon yang mendengarnya juga mendadak diam karena tidak menyangka gurauannya akan direspon serius gadis popular itu.
*
Cho Kyuhyun
Saat aku melihatnya untuk pertama kalinya, wajahnya sangat bersinar dan penuh dengan kebahagiaan. Pipinya yang tirus dan rambut panjang warna coklatnya membuatnya begitu istimewa. Dua matanya yang besar dan juga hidungnya yang mancung menambah nilai plus untuk kesempurnaannya. Gadis itu memang gadis sempurna.
Tapi kenapa sekarang gadis sempurna itu duduk bersamaku di sini?
“Kyuhyun?”suara merdunya menyadarkanku.
“Aku pesan es krim vanilla dan steak matang, lalu kau?”aku menatapnya.
“Aku sama dengannya, steaknya yang medium saja”tangan mungilnya menutup buku menunya dan menatapku.
Aku memalingkan wajahku dan menatap sekeliling, aku sedang  berusaha menyembunyikan rasa tidak percaya bisa makan bersamanya, bahkan kencan. Sebelumnya tidak ada keberanian dan kepercayaan diri mendekati sosok populer sepertinya.
“Bagaimana aku harus memanggilmu? Oppa? Sunbae? Chagi? Baby?”Zia menatapku dengan serius.
“Kenapa kau menanyakannya?”tanyaku merasa malu pada diriku sendiri.
“Bukankah kita sedang berkencan? Bukankah hal seperti itu yang biasa dilakukan pasangan? Memanggil seseorang yang mereka kencani dengan sesuatu yang romantic?”Gadis itu tertawa saat melihat kebingunganku.
“Terserah kau saja”akhirnya aku menyerah.
“Jangan bilang ini kencan pertamamu..”Zia tak bisa menahan tawanya.
Aku melihatnya tertawa dengan bahagia, sangat menawan. Suasana sepi pinggiran kota membuat tawanya lebih terlihat manis dan anggun. Aku sangat meyukainya, tawanya yang seperti itu bisa menenangkan hatiku.
“Kau manis..”ucapku tanpa sadar.
“Benarkah? One Kisseu..will you?”
Aku mengatupkan bibirku erat-erat. Lebih dari yang ku duga, ia lebih agresif dari bayanganku selama ini. Kenapa denganku ia selalu bertingkah tak terduga seperti itu?
“Ahh..”suara kikukku keluar dengan berat melalui kerongkonganku.
“Ha.ha.. I am just Kidding, sorry”tawa Zia semakin keras.
Ia berhasil mempermainkanku.
*
Zia Kim
Zia.. namaku, entah nama ke berapa yang aku miliki. Aku sudah berada di tubuh ini selama ratusan tahun. Tidak bertambah tua, tidak bisa mati dan akan segera sembuh dari luka separah apapun. Aku akan terus hidup seperti itu karena aku adalah mahluk abadi yang tak bisa mati.
“Kau tidak suka?”tanyanya saat aku berhenti memotong steak di atas piringku.
“Ah..tidak. aku hanya bingung denganmu, bagaimana kau bisa bertahan tanpa sekalipun kencan?”aku kembali memotong bagiannya menjadi lebih kecil dan melihat darah yang masih segar mengalir di sana.
“Aku..aku hanya menyukai satu perempuan tiga tahun ini, tapi aku tidak yakin apakah orang itu juga menyukaiku”Kyuhyun menyisihkan kacang polongnya disisi piring.
“Siapa?”tanyaku penasaran.
Aku kembali focus pada darah itu, sekali lagi aku tergoda dengan darah yang sangat aku benci. Aku sangat benci saat setiap sel dalam tubuhku selalu menunjukkan perbedaanku dengan manusia. Aku membencinya, tapi aku tak bisa hidup tanpanya.
“Kau”ucap Kyuhyun.
Aku tertegun saat laki-laki itu mengakui perasaannya padaku. Cho Kyuhyun, harusnya kau tak pernah jatuh cinta padaku..aku bukan manusia normal yang bisa kau sukai begitu mudah. Aku hanya seorang monster yang bahkan bisa membunuhmu dengan sekali gerakan.
“Aku..tidak bisa melanjutkan kencan ini”ucapku segera bangkit dari sana dan meninggalkan Kyuhyun termanggu di meja dengan pisau dan garpu yang masih berada di genggamannya.
Kyuhyun hanya menatapku tanpa melakukan apa-apa. Ia masih terduduk tanpa suara dengan wajah kaget dan bingungnya. Kali ini aku harus lebih waspada lagi dengan semua ini, orang itu tidak boleh jatuh cinta padaku.
“Aku tidak bisa membiarkan manusia jatuh cinta padaku dan akhirnya mereka harus pergi meninggalkanku sendiri karena takdir”
*
Author
Siwon menatap Kyuhyun cemas. Laki-laki itu hanya mengaduk makanan di dalam mangkuknya sejak tadi. Segelas jus yang biasanya tandas dengan sekali teguk masih utuh tanpa tersentuh. Kyuhyun benar-benar sedang kacau, ia bertingkah seperti orang yang gagal dalam kencan pertamanya.
“Kau? Kenapa kau murung di pagi yang cerah seperti ini?”Siwon memulai percakapan.
“Aku mengatakannya”sahut Kyuhyun lemah.
“Jadi kau mengatakannya?”Siwon hampir saja tersedak.
Kyuhyun kembali mengaduk makanan itu lagi, kedua matanya hanya mengikuti arah sendok yang berputar tanpa semangat. Siwon menyandarkan punggungnya pada kursi dan meletakkan sendoknya di samping piring, sekarang ia tau apa penyebabnya, Kyuhyun sedang patah hati.
“Zia..gadis itu memang tak semudah itu di dapatkan!”serunya membuat Kyuhyun menatapnya.
“Aku sudah ditolak olehnya”sambungya lemah.
“Kau ini mahluk bodoh! Bagaimana bisa kau menyerah seperti ini, sadarlah Cho Kyuhyun! Kau bisa mendapatkan Zia!” ucap Siwon menggebu.
Kyuhyun menatap Siwon, hatinya setuju dengan apa yang Siwo katakan. Penolakan di awal bukannya sudah biasa terjadi? Apa ia akan mudah menyerah seperti itu? Apa bisa laki-laki seperti dirinya patah hati seperti itu?
Kyuhyun bangkit dari kursinya dengan senyum.
“Aku akan terus menyukainya apapun yang terjadi”Kyuhyun membanting sendoknya ke meja.
Siwon lalu tersenyum karena berhasil membuat sepupunya bangkit.
*
To Be Continued…
Please Read, Coment And Like ne.. ^^
Next Or No?
Unlovable by Lily Park




Jumat, 01 April 2016

Cerpen: Just Be Friends


Just Be Friends
oleh Lily Park
Andre mulai menengok ke arah Caca sambil memberikan kode-kode lewat jarinya. Jam Sembilan lebih lima saat soal matematika itu sampai ke nomor lima belas. Cuaca pagi yang menggila dan panas membuat konsentrasinya menguap ke udara. Untuk menghibur diri mereka melakukan hal konyol.
“11 sampai 15?” Andre mengulangnya. Masih dengan suara lemah.
“E..E..E..E..A,” Caca menunjukkan jarinya sekaligus menggerakkan bibirnya tanpa suara.
“Itu?” Andre terkikik.
“Lagunya CJr.. hehe,” Caca menyahut dengan pelan.
“Jawabannya.. benar nggak?” Andre mengkode Caca lagi.
“Yakin.. nggak tahunya,” Caca berkomentar.
“Ca!” suara lirih Andre penuh penekanan.
“What do you mean.. oh,” Caca mulai bernyanyi.
“JB,” Andre ganti menyahut.
“Benar!” Caca menunjukkan jempolnya.
Andre tersenyum puas, Caca kembali fokus pada lembar jawabannya. Tingkah aneh mereka tak terperhatikan. Posisi duduk di pojokan kanan dua kursi sejajar paling belakang membuat mereka luput dari perhatian manusia yang ada di ruangan tersebut, tapi tidak untuk satu orang.
Andre dan Caca sudah lama mengenal. Mereka seperti pacaran, saking klopnya mengalahkan Aliando syarif dan Prily latuconsina. Caca dengan sifatnya yang mudah bergaul dan Andre yang punya sifat jenaka membuat mereka sangat cocok. Padahal mereka cuma teman. “Misi selesai,” ucap Andre lagi saat Caca menoleh padanya lagi.
“Sip!” Caca tersenyum.
“Akhirnya! Banyak banget nulisnya,” Andre bernapas lega.
Caca menatap Andre yang menghembuskan napasnya dengan paksa. Andre menoleh dan menyipit ke arahnya juga saat itu, dua pasang mata itu bertemu tidak sengaja. Untuk sekejap Caca terdiam dan membisu mengunci mulutnya.
“Apa sih?” Andre menginterogasi.
“Nggak! Nggak ada!” Caca dengan beringsut berjalan meninggalkan Andre.
“Caca! Kamu apaan sih!” Andre mengejarnya keluar.
Ada dua mata yang mengamati mereka dari jauh. Masih memperhatikan mereka tanpa terlihat. Dia bagaikan sosok rahasia yang tak pernah ingin muncul. Masih ingin menjadi surprise yang tidak ingin diketahui.
“Caca,” suara itu bergetar.
Jam dua belas tepat saat guru bahasa masuk ke kelas mereka. Caca dan Andre masih sibuk dengan makan siang mereka saat guru itu duduk di meja guru. Dengan sekali ketukan meja semua perhatian di kelas itu tertuju ke satu titik. Tentu saja ke arah meja guru.
“Untuk kali ini, kalian akan melakukan tugas berpasangan,” suara guru itu mengalun.
“Tugasnya apa Bu?” tanya seorang gadis berbadan tambun yang duduk tepat di depan meja guru.
“Puisi berpasangan,” terang guru itu. Andre mengkode Caca, gadis itu mengangguk setuju. Andre menghela napasnya dengan lega karena Caca akan jadi pasangan yang bisa diandalkan olehnya nanti. Di luar kelegaan Andre suasana kelas jadi sedikit riuh dengan tugas itu. Akhirnya guru itu mengetuk meja sekali lagi.
“Pasangan kalian Ibu yang tentukan!” ucapnya kemudian. Andre dan seluruh isi kelas kecewa.
“Yah! Ibu!” keluh semua manusia itu.
“Caroline dan Vinandra.. Andreas dan Emilia,” suara guru itu mulai menyebut nama muridnya satu per satu.
Caca menatap Andre kecewa, Andre juga melakukan hal yang sama. Lalu kepala mereka tersandar ke meja dengan lemas. Namun suara guru itu kembali mengarahkan para muridnya untuk duduk berdampingan dengan pasangan masing-masing, membuat mereka terpaksa bergerak. Itu adalah dua jam terpanjang dalam satu hari bagi mereka.
“Ca.. kamu bisa kan?” tanya Vin setelah Caca duduk di sebelahnya.
“Nggak terlalu sulit,” jawab Caca lalu mulai menggoreskan pensilnya.
Di sisi lain Andre sedang berdamai dengan hatinya. Dia mencoba untuk berkonsentrasi dengan apa yang sedang dilakukannya. Mili yang sedari tadi menyadari kegundahan Andre hanya bisa menghela napasnya panjang.
“Cuma dua jam aja, Ndre. Kamu harus konsen,” ucap Mili kemudian.
“Iya konsen. Lagian cuma teman.. nggak ada hak buat nggak suka,” Andre menarik buku tulisnya mendekat sambil menggumam tak jelas.
“Aku suka kamu,” suara Andre tertahan.
“Wahaha..,” Caca terbahak.
“Kok ketawa?” Andre menatap Caca bingung.
Kertas warna pink itu membuatnya bergidik. Baru kali ini seorang Andre menemukan kertas yang jelas-jelas ditujukan padanya. Untuk seorang Andreas yang tak pernah diperhatikan sekarang jadi seorang yang diperhatikan seseorang. Setelah membacanya dia merasa aneh.
“Andre punya penggemar rahasia nih,” ledek Caca kemudian.
“Kok bisa?” tanya Andre.
“Andre.. seorang cowok itu wajar ada yang naksir. Jadi jangan kaget ya,” Caca menepuk pundaknya sebentar lalu pergi. Andre mengekori Caca sampai ke dalam kelas. Caca langsung menuju ke bangkunya begitu juga dengan Andre. Tangan keduanya sibuk mengeluarkan baju olah raga untuk menyambut jam pertama, Ya.. jadwalnya penjaskes.
“Ca.. ini bener kan?” tanya Vin menghampiri Caca.
“Ya.. itu bener kok. Kapan diprint?” tanya Caca.
“Nanti sepulang sekolah,” jawab Vin.
“Oke,” Caca tersenyum ke arah Vin. Vin membalasnya.
Andre menatap Vin dengan sinis. Terlihat ekpresi tak biasa yang amat sangat terlihat, seperti cemburu. Tiba-tiba Mili menghampiri meja Andre dan memberikan sebuah kertas padanya. Andre terkejut dan hampir menjatuhkan tasnya ke lantai, Mili menangkap tas itu.
“Ndre? Masih pagi udah nggak baik nih?” selidik Mili.
“Mendadak panas,” Mili kaget dengan tanggapan Andre.
“Katanya cuma teman?” Mili menyindir.
“Iya.. Cuma teman.. tapi itu dulu,” sahut Andre.
Caca mendadak pusing mendengar ocehan Andre yang tiba-tiba berlebihan soal Vin. Mulut Andre yang sedari tadi tidak bisa berhenti mengungkap setiap detil tentang Vin membuatnya bosan. Caca menggebrak meja dengan keras, Itu akhirnya yang membuat Andre berhenti bicara.
“Kamu kenapa sih?” Caca melontarkan pertanyaannya dengan ketus.
“Enggak.. aku nggak suka aja kamu dekat-dekat sama Vin,” Andre tertunduk.
“Kamu siapa berhak melarangku dekat sama siapa aja?” suara Caca kesal.
“Aku,” suara Andre tertahan kebingungan menjelaskan.
“Kamu cuma temanku, Ndre!” Caca dengan beringsut pergi meninggalkan kantin.
“Iya aku memang temanmu, Ca. Makanya aku ingetin kamu,” Andre mengikuti kepergian Caca dengan matanya.
“Kami itu cuma ngerjain tugas. Makanya kami lebih dekat!” teriak Caca dari kejauhan.
Andre terpaku menatap Caca yang menghilang di balik koridor. Sekejap dia menyadari apa yang salah dengan dirinya, terlalu berlebihan. Dia tak bisa menyalahkan siapa pun atas semua salahnya sendiri, terlalu gegabah dengan membuat Caca marah. “Ca.. aku nggak bermaksud,” ucap Andre lemah.
Semenjak hari itu Caca diam. Dia tidak pernah menyapa Andre, dia menjauhinya. Setiap melihat ataupun bertemu dengan Andre Caca terkesan cuek. Saat berhadapan dengan Andre dia juga mengacuhkannya. Caca diam.
“Vin..di luar aja yuk,” Caca menarik tangan Vin dengan paksa.
“Kita jadi bahas ini lagi?” Mili menepuk pundak Andre yang menatap kepergian Caca.
“Iya.. kita bahas lagi,” mulutnya menjawab Mili tapi matanya masih fokus ke arah Caca.
“Ndre.. kamu sadar nggak sih ada yang perhatian sama kamu?” tanya Mili tiba-tiba. Andre menoleh.
“Aku sadar.. tiap hari ada yang ngasih sesuatu dan surat aneh yang nggak tahu dari mana,” jelas Andre.
“Udah dicari tahu?” tanya Mili lagi. Andre menggeleng.
“Kenapa nggak?” Mili penasaran.
“Karena aku menganggapnya cuma teman,” sahut Andre.
“Teman?” suara Mili kecewa. Sejenak Mili terdiam, Andre menatapnya bingung. Dalam benaknya ada berbagai macam spekulasi yang berputar-putar. Andre membuka mulutnya perlahan-lahan, sepertinya ingin meralatnya. Dan benar saja, dia mulai bicara.
“Karena aku hanya melihat suratnya, belum ketemu orangnya,” Jelas Andre.
“Kamu udah ketemu orangnya, Ndre,” terang Mili.
“Beneran? Siapa? Apa aku kenal?” Andre tampak antusias.
“Orang itu.. Aku,” wajah Mili menunduk dalam.
“Mili.. aku.. nggak bisa nerima perasaan kamu,”
“Kamu harus jujur sama Andre, Ca,” Vin mengaduk es degannya lagi.
“Aku nggak bisa jujur sama dia Vin. Mili suka sama dia,” Vin menoleh pada Caca bingung.
“Hah? Kamu tahu dari mana?” tanyanya tak percaya.
“Kemarin pas pulang sekolah.. Mili cerita semuanya.. semuanya ke aku,” Caca menghembuskan napasnya berat.
Vin menatap Caca sebentar, lalu mengambil tahu isi di depannya. Caca yang tidak tahu maksud dari Vin hanya memperhatikannya dengan penuh tanda tanya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Vin dengan dua buah tahu isi di tangannya. “Kamu lihat tahu isi ini.. kalau kamu nggak buka tahunya apa kamu tahu isinya?” Caca menggeleng.
“Apa hubungannya sama tahu isi?” Caca bingung.
“Caca! Ini perumpamaan!” Vin jengkel. Caca mengangguk.
“Teruskan,” pintanya.
“Kamu harus buka tahu isi ini baru melihat isinya,” Vin membuka tahu isi itu dan menemukan tauge beserta bihun di dalamnya. Caca berpikir sejenak lalu mulai mengangguk.
“Maksud kamu aku harus cari tahu dulu perasaan Andre ke aku?” Vin mengangguk.
“Nah! Itu tahu!” Caca tersenyum.
“Makasih Vin!” Vin membalas senyuman Caca.
“Sama-sama,”
Hari berikutnya Andre berdiri di depan pintu gerbang rumah Caca. Andre masih memikirkan kata-kata Mili kemarin, beberapa kata yang masih terngiang di dalam kepalanya. Kata-kata yang sedikit mengganggunya.
“Ndre?” Caca membuka pintu dan kaget saat menemukan Andre.
“Ca,” tiba-tiba Andre tak bisa bicara.
“Kamu ngapain di sini?” tanyanya bingung.
“Anu.. Ca..Anu,” jawab Andre tak jelas.
“Jemput aku?” tebak Caca.
“Iya,” Andre mengangguk.
Suasana berubah canggung sebentar. Caca masih terdiam di depan gerbang dan Andre di samping motornya. Di antara mereka tidak ada yang mengeluarkan kata-kata. Jadi sedikit aneh jika sebenarnya Andre orang yang jenaka.
“Maaf Ca.. waktu itu aku nggak bermaksud,” Andre membuka suara.
“Aku maafin,” Caca langsung menyambungnya.
“Dan.. buat itu.. aku nggak bisa mengangap kamu cuma teman,” Caca mengerutkan keningnya.
“Apa?” tanyanya bingung.
“Mili..dia yang jadi penggemar rahasiaku selama ini. Dia udah bilang semuanya ke aku. Tapi aku nggak bisa nerima perasaan dia. Karena dia aku anggap cuma teman,” jelas Andre. “Jadi?” Caca menatap Andre bingung.
“Meskipun aku nggak bisa nerima dia. Seenggaknya dia minta aku jujur ke kamu.. kalau aku nggak bisa mengganggap kamu cuma teman,” lanjutnya.
“Em.. terus?” selidik Caca.
“Kamu lebih dari teman buat aku,” ucap Andre.
“Katanya cuma teman?” Caca ketawa.
“Dulu iya. Tapi sekarang rasanya.. enggak,” Andre salah tingkah.
“Wah.. ini sih lebih gawat,” Caca nyengir.
“Kok bisa?” Andre mengerutkan keningnya.
“Pasti tambah over protective,” Caca tertawa lebar.
“Iya sih hehe,” Andre menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
The End

Kamis, 17 Maret 2016

Cerpen: Love in Apple

Love in Apple


Dua buah apel yang ada di atas meja baru saja terbang ke dalam tas sekolahku. Lima buku yang tersampul rapi dan beberapa peralatan sekolah menjadi penghuni tas yang masih berlabel itu. Bau kertas baru yang memenuhi indera penciumanku membuatku gembira. Sadar ini sudah waktunya untuk berangkat. Semua sudah siap. Juli tanggal muda. Sekolah baru saja memasuki musim tahun ajaran baru. Dan sekarang aku baru saja resmi menjadi salah satu murid SMA. Selamat tinggal biru putih dan selamat datang putih abu-abu. Sekarang kalian akan jadi milikku.
“Yang bener dong pake sepatunya Li,” suara serak bergema di telingaku.
“Udah bener nih Kak!” jawabku dengan lantang.
“Bener apaan. Yang satu itu sepatu siapa?” teriaknya.
Aku menatap sepatu yang sedang ku pakai. Sekarang terlihat jelas jika sepatu kananku ganjil. Benar juga apa yang dikatakan kakakku. Aku salah pakai sepatu. Dan sekarang tatapan sinis tertangkap kedua mataku. Menyebarkan rasa ngeri di udara. Aku melepaskan sepatunya. Tiba-tiba cowok jangkung itu berdiri di depanku. Sekarang aku bagaikan seekor semut yang tertelan oleh tingginya pohon. Sumpah deh. Kenapa kakak tinggi banget ya? Gender masa? Turunan dari ayah? Tapi kok aku tetep aja bontot sih?
“Nanti pas MOS jangan aneh-aneh ya Li. Kakaknya galak-galak soalnya,” sebuah nasihat meluncur.
“MOS-nya masih lima hari lagi kali Kak. Masih lama,” jawabku sekenanya.
“Cuma ngingetin,” sahutnya lalu melangkah melewati pintu.
Sepasang kaki ini melangkah menuju perpustakaan. Arah yang paling sepi saat jam istirahat. Semua perhatian dan kerumunan pastinya berpusat ke arah kantin besar yang ada di bagian selatan. Earphone yang menghiasi telingaku mendengungkan lagu-lagu yang ku suka. Dan aku sangat menikmatinya. Rasanya seperti banyak energi baru yang masuk mengisi jiwa lelahku. Tanpa sadar aku memejamkan mataku dan berjalan pelan. Menyusuri lorong itu.
Langkah kelimaku sesosok tubuh menghalangi jalanku. Aku pun membuka mataku. Dua mata cokelat menatapku tajam. Mengisyaratkan tatapan tidak suka. Rambutku yang tergerai bebas tertiup sepoi angin. Suasana membeku sejenak. Aku tidak mampu bergeming dari tempatku semula. Warna nama yang terjahit dengan rapi sudah berbeda dari yang melekat di bajuku. Warna kuning menyala yang membuatku sedikit kaget. Suara musik masih terputar di telingaku. Tapi tidak ada yang aku dengar sama sekali. Rasanya hanya kosong.
“Maaf Kak,” kataku berusaha berlalu. Bukannya meninggalkan aku yang mematung. Kakak kelas dua itu hanya diam tanpa kata. Cowok itu hanya tetap menatapku aneh. Rasanya seperti ada ribuan tusukan jarum yang menyerangku langsung mengarah ke mataku. Ku ambil inisiatif langkah pertama menghindarinya. Namun bukannya berlalu dia justru menghadangku. Rasanya aku sudah di ujung tanduk sekarang. Dia semakin menekanku dengan tatapan kurang bersahabat itu. Membuatku mati kutu di depannya. “Permisi Kak,” ucapku sekali lagi.
Aku mundur satu langkah. Cowok itu tiba-tiba maju satu langkah tepat di depanku. Tangannya terangkat tepat di samping tubuhnya. Lalu dengan tiba-tiba melepas earphone di telingaku dengan sedikit paksaan. Aku terkesima. Dia sepertinya sangat marah padaku. “Kalau jalan itu pasang mata. Pasang telinga,” ungkapnya. Tubuh jangkung berbalut kulit kuning langsat itu menghilang di persimpangan area kelas dua. Mataku hanya mengikutinya sampai menghilang. Entahlah sejak kapan aku hanya terbengong bodoh menatap punggungnya. Rasanya serentetan sihir baru saja melewatiku. “Sean? Temennya Kak Elyo!” ucapku lirih.
Apel bertengger manis di atas meja. Apel merah buah kesukaanku. Entah siapa yang meletakkannya. Di bawahnya ada sebuah note kecil. Tulisan rapi yang merangkai beberapa kata-kata manis. Ya begitulah kelihatannya. Tertulis dengan manis. “Cie.. dari siapa Li?” tanya Riza padaku.
“Nggak tahu,” dengan cepat aku bergeleng. Tidak ada satu orang pun yang terlintas di benakku. Nggak tahu harus mikirin siapa. Siapa yang bakalan aku tuduh buat kejadian ini. Melihat hal ganjil di sana. Yang sebenarnya juga bisa dilihat orang bodoh sekali pun. Aku mulai sadar akan sesuatu.
“R? Siapa R?” gumamku.
“R?” tanya Elma.
“Iya, coba deh lihat ini. Banyak kata R-nya yang ada dalam kotak,” terangku.
“Aduh.. jangan bilang Rengga,” tebaknya.
“Siapa Rengga, El?” tanyaku.
“Rengga anak kelas sebelah si kutu buku itu. Dia suka makan apel sama kayak kamu juga,” ungkapnya.
“Hah?” mulutku terbuka. Rengga yang suka makan apel? Rengga suka baca buku? Rengga yang pakai kacamata minus tebal itu? Rengga yang tinggi banget itu? Rengga yang… Rengga? Masa sih? Mana mungkin? Masa iya? “Nggak mungkin deh!” lanjutku dengan cepat.
“Semoga aja bukan. Bukan dia,” sambungnya.
MOS hari pertama sudah berakhir. Kiriman-kiriman apel datang setiap pagi. Di jam yang sama dan selalu tepat waktu. Tapi sayangnya aku nggak pernah tahu siapa pengirimnya. Apel yang rasanya asem-asem manis itu seperti buah racun. Meracuniku untuk bertanya. Siapa sih yang ngirim? Handphone-ku bergetar dengan hebatnya. Satu SMS kosong diterima. SMS dengan nomor asing tak bernama yang menyambangi kotak masuk. Bukan hanya satu. Tapi di susul SMS dari nomor yang sama tanpa tulisan yang berarti. Lebih dari dua puluh. Rasa jengkel menyambangiku. Siapa sih yang iseng ini! Akhirnya ku tekan call untuk nomor itu. Aku sangat penasaran siapa pelaku di balik semua hal ini. Satu kali, hubungan telepon itu tidak tersambung. Dua kali, sambungan telepon terputus. Ketiga kali.. dan akhirnya yang ke sepuluh tersambung dan diangkat juga. Suara serak menyambut di ujung sana.
“Halo?” sapaku.
“Halo,” suara cowok menjawab.
“Siapa ini ya?” tanyaku.
“Lah.. bukannya situ yang nelepon ya?” tanyanya padaku.
“Loh.. bukannya Mas yang ngirimin lebih dari sepuluh SMS kosong ya?” ucapku.
“Nggak kok. Ini aja baru mandi!” jawabnya.
Tut..tut.. tut.. Sambungan terputus. Pulsaku habis. Benar-benar sial. Orang ini nyebelin banget. Jelas-jelas ini dari nomor yang sama. Kok pake nggak ngaku segala sih! Bikin sensi aja!
Hari terakhir penutupan MOS. Akhirnya hari ini selesai juga. Rasanya sebentar lagi upik abu ini akan bebas. Duh.. senangnya. Akhirnya akan jadi siswa yang beneran. Nggak ada peraturan kakak kelas. Nggak ada ruwet dan ribet lagi. Akhirnya semua selesai. Tapi nanti jarang ketemu kakak itu lagi!
“Nah.. berhubung semua udah selesai. Kadonya dikasih ke kakak OSIS ya,” ucap seorang OSIS.
“Kak, boleh kasih ke kakak yang kita suka kan?” celetuk Figo.
“Terserah aja. Pokonya kadonya nggak boleh di bawa pulang sendiri,” jawabnya lagi. Akhirnya kadoku berakhir di tangan seorang OSIS. Aku tidak peduli akan bersama siapa kado itu nanti. Yang aku pikirkan sekarang adalah aku bebas. Sekarang waktunya untuk istirahat raga dari aktivitas tiga hari yang melelahkan. Yang kadang bikin stres itu.
Gubrakk!!
Tiba-tiba pintu terbanting dengan kerasnya. Semua penghuni kelas terkejut. Ada Penegak Disiplin! Aku ditarik salah satu dari mereka untuk maju. Wajahku berubah. Tanganku mendingin. Aku sedikit bingung dan panik. Apa yang ku lakukan? Apa salahku? “Kamu tahu nggak salah kamu?” tanyanya.
“Nggak Kak. Apa salah saya Kak?” jawabku.
Seorang cowok masuk tanpa permisi langsung menghadapku. Kemudian menatapku. Kakak yang kemaren itu. SEAN. Kakak yang itu. RASEAN!! Nama itu? R? Sean? RASEAN!!
“Elyo. Kok Adik nggak dikasih tahu sih?” panggilnya pada seorang cowok.
“Sengaja Se, biar kaget gitu,” terangnya.
“Aduh.. dasar Kakak durhaka ya. Lihat tuh, dia takut banget tahu,” jari telunjuknya menunjukku.
“Kasih apel aja biar tenang,” sarannya.
“Bener juga. Ken, ambilin apel!” teriaknya.
Ternyata kakak yang biasanya aku isengin itu balas dendam. Awas ya Elyo! Tamat nanti di rumah! Aku akan membuatmu membayar semua ini. Tunggu pembalasanku. Tunggu aja nanti! Bakalan lebih!
“Aliya, ini buat kamu adek manis. Tanda sayang kakak ke kamu,” tangannya menyerahkan apel padaku.
Aku termenenung. Aku berdiri mematung bingung. Sebenarnya tujuannya apa sih? maluin aku? Atau gimana? Iya sih aku suka sama dia. Tapi kok?
“Terima dong,” perintahnya.
“Jawab! Jawab! Jawab!” teriakan menggila di dalam kelas.
“Me too!” jawabku tanpa pikir panjang.
“Apa?” tanyanya.
“Au ah!” teriakku lagi.
Tawa pun pecah di dalam kelas. Riuh tepuk tangan membanjiri kami. Kejadian konyol ini membuatku ingin terbahak. Ya itulah.. konyol bin ngeselin!!! (Li)

Jumat, 29 Januari 2016

GOOD FATHER (Sequel from Love Mode and Ice Prince)

 

Good Father (Sequel bonus from Love Mode)

Author: Lily Park
Akun : Twitter: @magnolia2498
           Fb: Nurillaiyah (LY)
Rate: pg 15
Length: Part(?)
Genre: Life drama, love, family
Cast: Cho Kyuhyun
           Shin Eun Ji
Summary: Kyuhyun akan jadi ayah yang baik untuk anak-anakku..
Author
Kyuhyun duduk di antara rerumputan taman yang hijau. Matanya meneliti langit yang biru dengan sedikit awal putih yang menghiasinya. Matahari yang cerah membuat sinarnya sangat indah. Di bawah rindangnya pohon terasa teduh saat suasana panas melanda.
“Oppa!”seruan perempuan membuat Kyuhyun menoleh.
“Apa?”suara serak Kyuhyun menjawab.
Perempuan itu datang tergopoh dengan kaki yang sedikit di seret kearah Kyuhyun. Wajahnya terlihat lelah sekali. Entah apa yang baru saja di kerjakannya di sana. Wajah payahnya berbanding terbalik dengan Kyuhyun yang terlihat sangat santai.
“Apa aku menikahimu hanya untuk membiarkanmu bersantai?”rengek perempuan itu.
“Kenapa? Kau menyesal menikahiku?”Kyuhyun mengernyit.
“Tentu saja tidak. Tapi bisakah kau sedikit punya perasaan?”Kyuhyun mendelik.
“Apa maksudmu aku tidak punya perasan?”Perempuan itu tertawa.
“Menurutmu?”alis perempuan itu terangkat.
“Yak! Bisakah kau tidak mengungkit itu lagi Eun Ji?”Kyuhyun membanting bukunya ke rumput.
Eun Ji tertawa dengan kerasnya. Kyuhyun menatapnya dengan kesal. Beginilah kehidupan setelah pernikahan mereka berlangsung. Lamaran yang romantic itu berakhir dengan pernikahan yang cukup aneh bagi keduanya. Sepertinya mereka memang di takdirkan menjadi pasangan yang aneh.
“Eomma!”suara anak kecil memanggil dari balik semak.
“Yak! Kyu!”teriak Eun Ji.
“Apa aku juga harus menjaga dia juga?”tunjuk Kyuhyun pada bocah perempuan kecil yang duduk santai dengan anjing pudel mereka.
“Kau yang membuat mereka ada..kau juga harus bertanggung jawab pada mereka”Eun Ji tersenyum.
“Ash..aku tidak akan membuat lagi”ucapnya sambil melangkah pergi.
Eun Ji menatap punggung Kyuhyun yang berjalan ke balik semak. Tidak lama kemudian ia muncul menggendong anak  laki-laki usia empat tahun yang berlapis lumpur. Benar-benar anak yang kotor. Kyuhyun bahkan mengangkatnya dengan kesal.
“Yak! Kau benar-benar kotor Eun Ho!”teriak Kyuhyun pada bocah laki-laki itu.
“Dia benar-benar anakmu”teriak Eun Ji kencang.
“Kau pikir dia bukan anakmu?”Kyuhyun mengeluh.
“Dia anakku..jadi kemarikan. Aku akan membersihkannya. Kau urus malaikat kecil kita”pandangan Eun Ji beralih pada bocah perempuan yang asyik sendiri itu.
“Ya.. aku akan menjaganya”ucap Kyuhyun kemudian.
“Aku akan segera kembali. Jaga baik-baik”perintah Eun Ji.
“Baiklah.. tapi..berikan aku satu hadiah..di sini”Kyuhyun menunjuk bibirnya.
“Tidak akan!”Eun Ji meninggalkan Kyuhyun sambil menggendong Eun Ho yang berlumuran lumpur.
“Ash..dia kejam sekali”guman Kyuhyun.
Kyuhyun mendekati bocah mungil itu sambil tersenyum. Namun bocah perempuan itu masih saja focus pada anjing yang ada di depannya. Ia bahkan tidak perduli jika ada Kyuhyun di sampingnya. Dia memang mewarisi sifat ibunya yang kadang-kadang kejam.
“Kau tidak ingin menatapku Jae In?”Kyuhyun mencupit kedua pipi bocah lucu itu.
Bocah itu mengalihkan matanya ke arah Kyuhyun. Dia kelihatan sangat marah. Matanya yang tidak terlalu besar menatap Kyuhyun intens. Persis seperti ibunya dia benar-benar tipe penjinak ulung. Kyuhyun hampir membeku melihatnya.
“Jangan seperti ibumu Jae In”Kyuhyun berusaha menaklukan bocah dua tahunan itu dengan segenap hatinya. Namun bocah itu malah menangis.
“Apa yang kau lakukan pada anakmu Kyuhyun!”suara beringas Eun Ji terdengar.
***
Kyuhyun
Menikah dengan Eun Ji adalah hal terindah yang pernah aku lakukan. Awalnya..kehidupan kami sangat normal. Namun dengan seiringnya waktu dan bertambahnya anak membuat hidupku tidak tenang. Aku harus bisa mengurus mereka juga..
“Kyuhyun! Aku mau apel”rengek Eun Ji.
“Ash.. ini bukan pertama kalinya. Kenapa kau selalu seperti ini?”tatapku frustasi.
“Apa tidak boleh?”tatapnya galak.
“Aku hanya bingung dengan sikapmu”jelasku.
“Sikapku adalah normal. Tidak heran jika aku harus bermanja-manja denganmu sebelum semuanya jadi lebih sibuk dari sekarang”aku tidak pernah berhasil mendebatnya.
“Berikan aku apel sekarang!”Eun Ji melempar bantalnya padaku.
“Ssst.. aku ambilkan!”teriakku sebelum bantal selanjutnya melayang.
Malam yang sunyi saat aku harus berjalan menuju dapur yang sudah gelap. Aku jarang melakukan hal ini. Ini adalah kali ketiganya dalam dua bulan terakhir. Dia jadi lebih sensitive terhadap segala sesuatu. Jadi lebih dari sebelumnya. Lebih..
Dia jadi lebih berlebihan. Dia jadi lebih.. karena hamil anak ketiga kami!
***
Eun Ji
Aku tidak memaksanya. Aku tidak pernah memaksanya melakukan segala sesuatu dengan benar. Aku hanya ingin dia merasakan bagaimana menjadi orang tua yang baik dan benar. Setidaknya mengetahui bagaimana caranya berinteraksi dan mengetahui tumbuh kembang anaknya sendiri.
“Kau mandikan Eun Ho”ku tarik tangan Kyuhyun dari balik selimut.
“Ya.. lima menit lagi”pintanya.
“Kyuhyun! Bangunlah”ku buka selimut yang menutupi kepalanya lalu mengecup bibirnya sekilas.
“Ya.. aku akan bangun”senyumnya mengembang.
Dia lebih dari yang ku duga. Dengan sedikit dorongan dia pasti akan jadi ayah yang lebih baik untuk semua malaikat kecil kami. Dia akan menjadi suami yang bisa di andalkan dan ayah yang sigap untuk membantuku membesarkan tiga anak ini dengan penuh cinta.
“Jangan menyiramnya langsung dengan shower. Dia akan mudah pilek. Pelan-pelan saja”ingatku.
“Satu kali lagi. Sarapan pagi..di sini”tunjuknya ke bibir.
“Buang pikiran kotormu itu..ss”ku dorong Kyuhyun menuju kamar Eun Ho.
Pintu kamar terbuka. Namun kami tidak menemukannya di atas tempat tidur. Dia pasti ingin bermain di pagi ini. Anak itu memang seperti ayahnya..agak menyebalkan. Dia pasti sedang mempermainkan kami berdua. Bersembunyi di suatu tempat agar tidak mandi.
“Eun Ho-ya”panggil Kyuhyun.
Aku mengamati seluruh ruangan itu. Memeriksa di balik kursi dan di balik gorden. Tapi mahluk kecil itu tidak ada di sana. Aku beralih ke balik pintu. Benar saja Eun Ho bersembunyi di balik pintu dan menyelimuti dirinya. Anak yang cerdas dengan menggunakan selimutya untuk menyamarkan diri.
“Eomma menemukanmu”ku dekap tubuh mungilnya dengan erat. Tawa kecilnya terdengar.
“Eomma..aku tidak mau mandi”ucapnya sedikit tidak jelas.
“Kenapa?”tanyaku.
“Appa menyiramku dengan shower”jelasnya.
“Yak! Jangan lakukan itu Kyuhyun!”teriakku kesal pada Kyuhyun. Kyuhyun meringis.
“Eomma..”Jae In juga bangun.
Ini pagi yang panjang dengan mereka semua!
***
Author
Mereka sudah sibuk dengan kedua balita itu. Eun Ho yang baru mandi terus merengek pada ibunya sedangkan Jae In tidak ingin lepas dari ibunya. Kyuhyun yang terus menenangkan Eun Ho tidak mampu berbuat banyak selain terus berusaha membujuknya agar mau memakai baju untuk menutupi tubuhnya.
“Eomma..”rengek Eun Ho.
“Eun Ho-ya. Pakai bajumu”bujuk Kyuhyun
“Eomma”panggil Jae In.
“Oppa..pakaikan ini untuknya”Eun Ji terus sibuk memecah konsentrasinya pada dua balita itu.
“Eomma..”suara Eun Ho makin jelas.
“Pakai bajumu dulu. Eomma akan datang setelah kau berpakaian”Kyuhyun berhasil memakaikan baju ke tubuh Eun Ho.
Kyuhyun menggendong Eun Ho keluar dari kamar. Eun Ji pun melakukan hal yang sama setelah merapikan rambut Jae In yang sedikit basah. Dua balita itu memang sangat merepotkan di pagi hari. Mereka berhasil membuat dua orang dewasa itu kebingungan.
“Kita harus mencari pengasuh untuk mereka”ucap Kyuhyun menuruni tangga.
“Aku tidak akan menyerahkan mereka pada siapapun”balas Eun Ji.
“Kita tidak hanya punya dua. Kita akan punya tiga”ingat Kyuhyun.
“Aku tau.. tapi aku tidak bisa mempercayakan anakku pada orang lain”Eun Ji meletakkan Jae In di kursinya.
“Aku tidak ingin kau sibuk”Kyuhyun juga meletakkan Eun Ho di kursinya.
“Baiklah..kita akan mencarikan pengasuh untuk mereka”Eun Ji akhirnya luluh. Tangannya membagikan roti selai ke piringnya dan Kyuhyun.
“Gomawo”Kyuhyun mengecup kepala Eun Ji singkat.
“Aku ingin kau sering meluangkan waktumu untuk mereka”Eun Ji menyuapkan bubur ke dalam mulut Jae In.
“Ne.. tapi apa aku tidak bisa mendapat tambahan sarapan?”Kyuhyun mengerling.
“Tidak! Jangan di depan mereka”Eun Ji mendelik.
“Eun Ji-ya!”rengek Kyuhyun.
“Habiskan makananmu Eun Ho. Jangan bersisa”Eun Ji menatap Eun Ho yang mulai bisa menyuap makannya sendiri.
“YAK! Eun Ji!”Kyuhyun mulai kesal. Tapi tetap di acuhkan.
***  
Next or no?
#LilyPark


Sabtu, 09 Januari 2016

Yesterday


Tittle: Yesterday
Main cast: Cho Kyuhyun , Shin Hyumi
Rate: 16+
Lenght: mini part drama
Auhtor: Lily Park
                Fb: Nurillaiyah(LY)
                Twitter: @magnolia2498
Genre: Love, hurt, life drama
Summary:
Kau tau?
Kekuatan cinta itu lebih kuat dari sihir manapun

***
Author
Dua mata bertemu.  Kedua tangan itu saling menjabat. Senyum pun mengembang. Gadis tinggi berkulit putih susu. Dengan pria korea berperawakan jangkung berwajah oval. Kini mereka telah saling mengenal setelah sebelumnya mengucapkan nama masing-masing.
“Kyuhyun, eum.. jadi apa yang sedang kau lakukan di sini?”tanya sang gadis.
Pria itu tersenyum. Melangkah santai di sebelah sang gadis. Mata coklatnya menyorotkan sedikit kegundahan. Berkedip beberapa kali lalu sedetik kemudian menoleh pada sang gadis. Tersenyum kaku. Senyum yang sangat terpaksa.
“Mengenang seseorang”ucapnya.
“Mengenang seseorang? Siapa?”tanya gadis itu lagi.
Pria itu berjalan lurus. Meninggalkan sang gadis di belakangnya. Tanpa menoleh sedikitpun ataupun menjawab pertanyaan gadis itu. Kakinya terus saja melangkah tanpa halangan. Pria itu melangkah dalam diam. Matanya tetap meneliti setiap sudut tempat itu. Entahlah apa yang sedang di carinya.
“Kyuhyun?”panggil gadis itu.
Pria itu terhenti. Suara itu kembali terngiang. Terdengar dengan jelas. Dari arah yang sama. Nada yang sama dan suasana yang sama. Dirinya kembali pada setiap waktu yang pernah di laluinya. Kembali lagi seperti kemarin.
“Kyuhyun!”suara itu kembali terdengar.
Pria itu menoleh. Dilihatnya gadis yang sedari tadi mengikutinya terduduk. Kedua  tangannya memegang kaki kirinya. Wajahnya yang ceria berubah. Sekarang wajah itu sembab karena menangis. Ada noda darah di sepatu flat yang di pakainya. Sepertinya kaki gadis itu terluka.
“Kyuhyun”panggilnya lagi.
Mata Kyuhyun terpaku. Menatap gadis itu semenit lalu berlari menghampirinya. Yang di dengarnya bukanlah mimpi. Dia sedang bersama dengan orang yang sama. Dia bukan berhayal. Karena dengan mata kepalanya sendiri sekarang dia sedang melihat orang itu lagi. Ini kenyataan.
“Hyumi, gwencana?”tanya Kyuhyun.
“Appo”ungkapnya.
Jarak villa dan tempat ini lumayan jauh. Semua obat dan perban ada di sana. Akhirnya Kyuhyun menggendong gadis itu. Di punggung Kyuhyun gadis itu tenang. Menyandarkan kepala di pundak Kyuhyun. Kemudian dia tertidur. Sejenak melupakan rasa sakitnya.
“Saranghae Hyumi...”ucap Kyuhyun lirih.
***
Hyumi
Aku membuka mataku. Sorot matahari yang sangat menyilaukan langsung  menyapanya. Rasanya tidurku benar-benar tenang. Sangat lelah dan santai. Musim gugur ini rasanya menyenangkan. Ada banyak pohon maple yang daunnya menguning. Sangat indah.
Ku buka selimut yang membalutku. Ternyata udara tak sedingin yang kukira. Meskipun saat ini hampir musim dingin tapi rasanya udara masih sangat bersahabat. Aku melangkahkan kakiku. Tapi ada sesuatu yang sakit di sana. Pergelangan kaki kiriku di perban dengan rapi. Dimana aku mendapatkan luka itu?
Aku berusaha mengingatnya. Tapi nihil. Aku tidak ingat sama sekali. Dan berusaha mengingatnya membuatku pusing. Kepalaku berdenyut hebat dan akhirnya aku menyerah. Menyerah untuk mengingat yang terjadi kemarin. Lebih baik jika aku tidak mengingatnya.
“Hyumi!”suara pekikan terdengar.
Aku menoleh. Menatap sosok yang datang dari arah pintu. Gadis dengan wajah oval dan rambut ikal yang sangat pas dengan postur tubuhnya yang mungil. Gadis itu berlari lalu duduk di sampingku dengan wajah kawatirnya. Siapa dia?
“Hyumi, Eonni”ungkapnya.
“Eonni?”tanyaku.
“Ya, Eonni”jawabnya dengan anggukan.
Jadi gadis mungil ini eonni-ku? Ya, Nara eonni! Aku ingat sekarang!
“Nara eonni?”tanyaku.
“Ne, kau benar Hyumi. Kau sudah ingat sekarang?”aku mengangguk.
“Eonni, aku ingin jalan-jalan”ungkapku.
“Baiklah. Tapi kau harus bersiap-siap. Setelah itu pergilah”ucapnya.
Aku mengangguk. Dan dengan bantuan eonni aku bisa menyelesaikannya lebih cepat. Akupun segera melangkahkan kakiku secara perlahan. Menghindari rasa ngilu yang ada di kaki kiriku. Menikmati setiap jengkal jalan yang ku lewati. Dan akhirnya aku sampai di salah satu tebing yang mengarah langsung kelaut. Di sana ada sebuah pohon maple besar yang daunnya sudah berubah menguning. Perpaduan yang hebat.
Dari arah lain datang seorang namja. Tatapannya mengarah padaku. Sorot matanya begitu hangat. Seperti tatapan seseorang yang sangat aku kenal. Bibirnya yang merah muda mengukir senyum ketika aku menatapnya. Seperti yang aku duga. Mungkin di sadarinya jika aku sedang menatapnya. Kakinya berhenti beberapa langkah di sampingku.
Aku segera memalingkan wajahku ke arah laut. Membuyarkan semua pikiran aneh dan segala pertanyaan yang menggerayapiku. Sejuta hayalanku tentang namja itu. Harapan aneh yang terpendam. Sebenarnya apa yang kau harapkan Hyumi? Bersama dengannya? Atau berharap dia jatuh cinta padamu?
“Indah”ucapnya.
“Akan lebih indah jika senja tiba”seruku.
“Kau pernah ke sini agashii?”tanyanya.
“Tidak. Tapi perasaanku mengatakan jika senja pasti lebih indah”jawabku.
Orang itu tersenyum. Kemudian berjalan mendekatiku. Wajahnya yang tampan lebih terlihat. Dengan jelas senyumnya mengukir di wajahnya. Tangannya terlurur. Bibirnya membuka hendak mengucapkan beberapa kata. Jantungku berpacu. Sepertinya benda itu akan keluar dari sana.
“Kyuhyun. Namaku Cho Kyuhyun”ungkapnya.
“Shin Hyumi”jawabku menjabat tangannya.
***
Kyuhyun
Aku akan membuatmu jatuh cinta setiap hari. Dan aku juga akan mencintaimu setiap saat. Meski kau akan selalu melupakannya. Aku juga akan selalu mengingatnya. Tidak perduli itu seribu kali ataupun seratus ribu kali. Aku akan tetap membuatmu mencintaiku meski hanya satu hari. Aku yakin kekuatan cinta juga yang akan membuatku mampu melakukannya.
“Kyuhyun, apakah ada tempat yang lebih indah selain ini?”aku bergeleng.
“Di sini adalah tempat yang paling indah”jawabku.
Gadis itu tersenyum. Entahlah sudah tak terhitung lagi. Sudah berapa banyak waktu yang aku lalui dengannya. Waktu itu begitu cepat. Dan setiap kali aku bertemu dengannya dia selalu orang yang sama. Meski tanpa rasa seperti kemarin.
“Auh..”pekiknya.
“Kau baik-baik saja?”tanyaku.
“Kakiku berdarah”ucapnya.
“Apa kau bisa berjalan?”gadis itu bergeleng.
Sekali lagi. Aku masih bisa merasakan hari itu. Pertama kalinya bertemu denganmu. Dan dengan berani kau mengucapkan kata suka padaku.Tiga tahun lalu. Aku masih ingat dengan jelas hari itu. dan tiba-tiba saja bayangan hari itu muncul kembali. Di sini. sekarang ini.
“Naiklah ke punggungku”pintaku padanya.
Dengan cepat ku gendong dia. Melewati jalan setapak yang langsung mengarah ke villa. Tempatnya melalui satu hari. Satu hari dalam tiga tahun ini. Di mana setiap hari batu di mulai di sana. Satu hari yang singkat untuk mengingat sesuatu yang indah.
“Kyuhyun”bisiknya di telingaku.
“Hem?”
“Kau sudah punya pacar?”tanyanya padaku.
“Belum”jawabku.
“Benarkah?”tanyanya lagi.
“Benar. Bagaimana denganmu nona?”tanyaku.
“Belum. Aku masih belum menemukan namja yang cocok denganku”jawabnya.
“Bagaimana dengan cincin yang melingkar di jarimu?”matanya memandang cincin itu.
“Aku tidak tau”jawabnya kaku.
Aku selalu mencintaimu. Shin Hyumi.
***
Author
Gadis itu masih tak mampu menyadari bahwa laki-laki yang sedang bersamanya sedang meneteskan air matanya. Mata coklatnya berubah berkilau dari kejauhan. Tapi gadis itu masih tak merasakannya.
“Hyumi!”seruan sebuah suara dari halaman rumah.
“Eonni”sahutnya.
Mata perempuan itu langsung mengarah pada Kyuhyun. Wajah kawatirnya berubah damai. Adiknya berada pada tangan yang tepat. Perempuan itu yakin bahwa Kyuhyun mampu menjaganya. Dia bisa melindungi Hyumi. Karena dialah cintanya.
Kyuhyun menghampiri Nara  setelah mengantarkan Hyumi ke dalam rumah dan mengatakan beberapa kata padanya. Perempuan itu tertawa dengan apa yang di ceritakan Kyuhyun. Dia bisa saja tertawa lepas. Tapi akhirnya di turunkannya suara tawa itu.
“Kau harus menjaga adikku dengan baik”pintanya.
“Aku tau nunna”jawabnya.
Hyumi masih tidak tau bahwa Kyuhyun adalah tunangannya. Hari ini ataupun kemarin mereka bertemu. Atau sudah melakukan hal yang sama setiap hari itu semuanya berlalu begitu saja. Hyumi tidak mengingat apapun tentang hari kemarin dan akan melakukan hal yang sama setiap harinya. Dia bahkan tidak tau bahwa Kyuhyun sudah jatuh cinta padanya sejak lama.
Hyumi tidak sadar selalu jatuh cinta pada Kyuhyun setiap hari. Pada satu orang yang sama. Tapi setiap hari dia selalu membuatnya terlihat seperti kesan pertama. Kekuatan cinta.
“Kyuhyun?”seru Hyumi kaget.
Gadis itu bingung melihat Kyuhyun bersama dengan Nara. Dia menatap mereka aneh. Sepertinya rasa cemburu.
***
Keep RCL ne.. wait for next part..

#LilyPark

Our Strory 18


Our story 18
Main cast: Cho Kyuhyun, Kang Su Yoong
Rate: 17+
Lenght: Part
Auhtor: Lily Park
                Fb: Nurillaiyah(LY)
                Twitter: @magnolia2498
Genre: School, life, love drama
Summary: Dunia akan menemukan kita yang sebenarnya di umur 18 tahun.
***
Author
Tidak apa-apa kau tidak mengenal cinta. Tidak apa-apa jika kau terluka. Tidak apa-apa jika kau  merasa bersalah. Tidak apa-apa jika kau merasa menyesal. Merasa kecewa. Sesak karena masa lalu. Atau sesak karena tidak ada orang yang perduli padamu. Yang terpenting jangan sakit. Kerena semua itu hal biasa yang di alami Seorang manusia normal. Semuanya baik-baik saja. Karena kau masih 18 tahun.
Masih banyak waktu yang akan kau lalui.
Masih banyak hal yang bisa kau lakukan.
Masih banyak jalan yang harus kau lewati.
Jangan pernah menyerah pada keadaanmu.
Dan suatu saat sebuah kebenaran akan datang padamu.
Hanya percayalah. Pada dirimu sendiri.
***
Kang Su Yoong
Suatu saat kau seperti sampah. Di buang di sembarang tempat dan di anggap tidak berharga. Di manapun kau ada kau selalu jadi sesuatu yang di buang. Karena mereka tidak tau apapun tentang dirimu. Karena semua orang menganggapmu sebelah mata. Itu karena mereka tidak bisa melihat kenyataan. Itu karena kau lebih berharga. Kau sangat berharga.
“Namaku Kang Su Yoong”
“Kang Su Yoong?”
“Su Yoong? Kau nampak seperti Su Jin”
“Aku... memang adik Su Jin. Dan Su Jin adalah kakakku”
“Oh.. jadi Kang Su Jin ini kakakmu? Pantas saja!”
Mereka menertawakan Su Jin. Tawa itu. Aku sangat membencinya.
“Kalian.. apa mulut itu tau apa yang mereka katakan?”
Tatapan itu. Mereka bahkan menatapku seperti itu. Mata bulat yang memuakkan.
“Apa maksudmu?”
“Hei! Kau! Kau sangat sombong!”
Kalian seperti... pantaskah kalian di sebut manusia?
“Kalian tau aku sombong, jadi jangan berani bermain denganku. Berhenti juga mengganggu Su Jin”
Tangan-tangan itu berani menunjukku. Mereka akan merasakannya.
“Hei.. lihatlah dia. Beraninya dia!”
“Kita beri saja sebuah pelajaran”
“Mrs. Smith, bisakah aku bicara dengan kakaku sebentar?”
“Tentu”
Aku akan membuat mereka membayar semuanya. Aku akan membuat mereka membayar apa yang mereka lakukan pada Su Jin. Apapun itu, aku akan membuat mereka membayarnya. Membuat mereka menyesalinya. Lihat apa yang bisa di lakukan orang yang tak pernah mereka anggap sebelumnya.
Tangan gadis ini begitu dingin. Dia sangat berbeda denganku. Meski pun kami besar dan tumbuh bersama. Dia sangat berbeda denganku. Meski kami di asuh dengan cara yang sama. Itu tidak menjamin di punya sifat sepertiku, dia berbeda denganku.
“Su Yoong, hentikan”
Dua mata coklat itu menatap tepat ke arah mataku. Tatapan itu, sangat menyayat hati.
“Apa bisa aku berhenti? Apa yang kau lakukan selama ini Su Jin? Kau.... Kau sangat bodoh!!”
“Benar..aku bodoh, aku sangat bodoh seperti yang kau katakan”
“Jadi berhentilah bersikap bodoh. Kembalilah menjadi kakak yang tegar untukku”
Air beningnya mulai menetes. Sudut matanya mulai basah.
“Aku tidak bisa”
“Jika kau terus seperti ini, aku akan pergi dari sisimu”
Aku benar-benar akan meninggalkanmu. Berbaliklah dan kejar aku Su Jin. Kita akan memulainya dari awal. Kita akan memulainya dari awal lagi. Seperti Lima tahun yang lalu. Saat pertama kali kita saling berjanji. Akan hidup sangat baik di depan makam ayah.
“Aku akan kembali ke Korea. Jika kau terus seperti ini, aku tidak akan menemuimu lagi”
Tangan hangat itu mendekapku. Dia berbalik untukku.
“Aku tidak bisa membiarkanmu kembali, ke tempat itu lagi”
“Aku tidak perduli, aku tidak perduli jika harus kembali ke sana. Karena akan ada kau di sisiku”
“Su Yoong... aku tidak bisa bersamamu lagi”
Dia mulai menangis di pundakku. Menghembuskan tangis terisaknya ke udara. Dia.. sudah cukup dia tersiksa selama ini. Aku sudah tidak sanggup lagi. Kami bukanlah hama yang perlu di basmi. Kami bukanlah sampah yang bisa di buang kapan saja. Kami adalah.. kami. Bukan orang lain.
“Jika begitu, kau akan melihatku jatuh seperti sebelumnya... tanpamu”
“Su Yoong!! Su Yoong!!”
Aku tidak bisa lagi Su Jin. Tidak bisa melihatmu seperti ini.
***
Kyuhyun
Mataku tertutup rapat. Tapi telingaku menakap suara yang familiar. Suara yang ku dengar setiap hari. Suara yang ada di manapun aku berada. Suara yang selalu terdengar tidak terima. Dia selalu seperti itu. Mata yang menyebarkan aura kebencian.
“Namaku Kang Su Yoong”
“Kang Su Yoong?”
“Su Yoong? Kau nampak seperti Su Jin”
“Aku... memang adik Su Jin. Dan Su Jin adalah kakakku”
“Oh.. jadi Kang Su Jin ini kakakmu? Pantas saja!”
Dendam yang membara dan hati sekeras batu.
“Kalian.. apa mulut itu tau apa yang mereka katakan?”
“Apa maksudmu?”
“Hei! Kau! Kau sangat sombong!”
Manusia yang tak mengenal ketakutan.
“Kalian tau aku sombong, jadi jangan berani bermain denganku. Berhenti juga mengganggu Su Jin”
Tidak sekalipun goyah dengan tatapan-tatapan benci semua orang. Dia tetap setegar batu karang.
“Hei.. lihatlah dia. Beraninya dia!”
“Kita beri saja sebuah pelajaran”
 “Mrs. Smith, bisakah aku bicara dengan kakakku sebentar?”
“Tentu”
Dia sama seperti diriku. Orang yang sebenarnya tak di inginkan. Tak pernah di anggap. Tak pernah di perdulikan. Seperti itu. Hanya menjadi pion bagi orang lain. Tameng bagi orang lain. Intan yang sebenarnya. Hal yang berharga. Di anggap sebelah mata.
Kang Su Yoong. Pion bagi Su Jin.
“Jika begitu, kau akan melihatku jatuh seperti sebelumnya... tanpamu”
“Su Yoong!! Su Yoong!!”
Dan juga terlalu bodoh. Dia terlalu percaya pada orang lain.
“Kau.. akan merasakan semuanya sendiri jika kembali ke sana. Dan aku akan mendapatkan segalanya”
***
Author
“Terima kasih semuanya. Kalian membantuku dengan sangat baik”ucap Su Jin begitu kembali ke dalam kelas.
“Tentu saja”jawab Ken menghampiri Su Jin.
Semua tersenyum puas. Termasuk Su Jin yang dapat melakukan tujuannya dengan baik. Dia menuntaskan misinya dengan sempurna. Akting yang selama ini di lakoninya benar-benar nyata. Hingga dia berhasil membuat Su Yoong percaya.
“Kyu..”Kyuhyun beranjak pergi. Su Jin meninggalkan Ken begitu saja.
Su Jin mengekori Kyuhyun dengan cepat.  Dua pasang kaki mereka sampai di atap gedung itu. Tepat di hadapan kota London. Kota yang penuh dengan orang-orang yang Kyuhyun benci. Seperti Su Jin.
“Aku tidak ingin bicara denganmu. Pergilah!”Kyuhyun mengusir Su Jin begitu mendekatinya.
“Aku adalah calon tunanganmu. Jadi aku berhak ada di sini”ucap Su Jin.
“Aku tidak pernah ingin bertunangan dengan seorang aktris sepertimu. Tidak sekalipun”jawab Kyuhyun dingin.
“Kita akan lihat nanti”Su Jin menggenggam tangan Kyuhyun erat.
 Kyuhyun menghempaskannya ke udara. Dia benar-benar tidak menyukai gadis itu. Dia terlalu berlebihan. Su Jin yang ambisius membuatnya muak. Kyuhyun membenci semua fakta bahwa dunia selalu menjunjung martabat sebagai nomor satu. Dan semua orang  melakukan apapun untuk mendapatkannya. Termasuk mengorbankan orang lain.
Kyuhyun berlalu. Su Jin masih berdiri di tempatnya semula. Mengamati orang itu melalui punggungnya.
“Aku akan mendapatkanmu. Cho Kyuhyun”Su Jin tersenyum menang.
***
To Be Continued..
#Lily_Park

Like+comen ne..^^