Selasa, 29 Desember 2015

MAMA


Di mana cinta akan selalu ada
Cast: Cho Kyuhyun, Kang Yura
Length: PART
Genre: Life, romance, Sad, Love
Pg: 13
Summary: menjadi mama dari MAMA adalah anugerah terindah dalam hidupku..
***
Author
Di sebuah toko di ujung jalan 5th Avenu terpajang roti-roti panggang yang masih mengepulkan asap panasanya, matahari bahkan belum muncul saat itu. Jalanan kota New York yang masih sepi dan gelap tidak membuat semangatnya buyar. Kang Yura, gadis muda itu menyusun hasil karyanya di etalase kaca tembus pandang tepat di depannya.
“Kalian istimewa.. karena setiap adonan yang ku buat pasti penuh cinta”ucapnya pada roti terakhir yang di pegangnya.
“Kakak.. berhentilah bicara pada mereka. Mereka akan bosan nanti”suara di balik pintu dapur membuatnya menengok.
“Aku hanya memberi mereka sedikit dorongan agar menarik hati pembeli nanti”jawabnya.
“Ah.. setiap pagi menyajikan roti-roti ini adalah anugerah terindah dalam hidupku”ucap pemuda itu meletakkan Loyang penuh roti ke hadapan Yura.
“Aku..juga merasakan hal yang sama”sambung Yura menyahut Loyang itu dengan tangannya dan berjalan ke ujung ruangan di mana etalase kosong berada.
“Dia akan datang juga?”tanya pemuda itu.
“Mungkin”sahut Yura.
“Kakak? Apa kau baik-baik saja?”Pemuda itu mendekati Yura dan menatapnya.
“Aku sangat baik… dia tidak akan menyakitiku lagi Yun Woo”Yura tersenyum. Tapi pemuda itu tampak tidak yakin.
“Pergilah saat dia membuatmu sakit. Jangan terus berada di sisinya jika dia menyakitimu”Suara Yun Woo meninggi.
“Dia tidak akan menyakitiku Yun Woo”Yura tersenyum untuk kesekian kalinya. Yun Woo pasrah.
***
Kyuhyun
Saat aku menyadari semuanya aku sudah sampai di sini. Hatiku membawa kaki ini melangkah ke mana dia ingin. Akhirnya aku ada di New York. Tempat di mana pertama kali aku menemukan dia yang membuat hatiku bicara.
“Ash.. kenapa dia lagi..Ya? Aku ada di New York”aku menjauhkan ponselku sebentar karena teriakannya membuat telingaku sakit.
“Kyuhyun!”panggil Su Won dari jauh.
“Sssstt..jangan berisik”aku menutup sebentar ponselku.
“What?”tanyanya bingung.
“Woo Ri”sahutku. Dia menutup mulutnya.
“Aku akan pulang dalam beberapa hari..aku janji..”ku jauhkan ponselku lagi karena dia mulai berteriak lagi.
“Aku tunggu di mobil”ucap Su Won tanpa suara.
Ku anggukan kepalaku sebentar dan melihatnya pergi. Woo Ri mulai normal lagi volume suaranya mulai menurun. Aku akan berhadapan dengannya saat pulang nanti. Dia pasti akan menggantungku di atas tebing. Sepadan untuk ini..
“Apa yang membuatnya marah?”tanya Su Won begitu aku duduk di mobilnya.
“Aku kabur lagi”jelasku. Su Won tertawa.
“Dia masih over protektiv seperti biasanya. Dia kakak yang baik”Su Won melajukan mobilnya keluar dari bandara.
“Atau perempuan yang kejam.. dia kakak yang esh..untung saja aku bukan suaminya”aku bergidik ngeri membayangkan Woo Ri.
“Tujuan pertama… MAMA”aku mengangguk.
***
Kang Yura
Kami mulai membukanya saat beberapa orang telah berdiri di depan pintu kami. Wajah-wajah pagi yang segar itu tersenyum saat aku membalik tanda tutup dengan buka. Saat tanganku membuka pintu mereka langsung melangkah masuk dengan senang.
“Morning.. Yura”sapa mereka ramah.
“Morning..”sahutku tak kalah ramah.
“Kakak!”panggil Yun Woo dari dapur. Roti terakhir sudah matang.
“Kalian yang terbaik hari ini”ku angkat mereka dari pemanggang dan asap masih menyembul dari pori-pori mereka.
“Akan ku ambil alih dari sini. Kau urus kasir saja”ku lepas mereka bersama Yun Woo. Mereka akan luar biasa di tangannya.
“Oke.. buat mereka jadi bintang Yun Woo!” teriakku. Aku pun kembali ke meja kasir.
Pintu kembali terbuka. Bel di atas pintu yang terbuka berbunyi. Dua orang berwajah Asia pun masuk. Aku baru melihat mereka, mungkin mereka adalah pelanggan baru. Semoga mereka menyukai karyaku. Dan selalu ingin kembali ke sini.
“Selamat datang”ucapku ramah. Aku lihat mereka tersenyum sekilas. Orang Korea.
“Di mana aku bisa menemukan yang manis?”tanya orang  Korea itu menghampiri meja kasir.
“Sudut kanan”jawabku se ramah mungkin. Dia tersenyum.
“Terima kasih”Perempuan itu lalu  berjalan ke sudut yang ku tunjukan.
“Aku.. ingin.. mix jus”laki-laki itu menatapku aneh.
“Tentu saja. akan segera siap tuan”aku memberikan note kecil pada Frank. Dan dia segera bergerak.
“Kyuhyun!”perempuan itu melambaikan tangan pada laki-laki di depanku. Secepat kilat laki-laki itu menghampirinya.
“Aku harap.. hari ini berjalan baik”aku kembali focus pada pelanggan yang mengantri di kasir untuk membayar.
***
Author
Kyuhyun terus menatap Yura tanpa henti. Ini pertama kalinya ia menemukan gadis yang sangat bercahaya sepertinya. Yura seperti mutiara yang berkilau saat gelap. Itu sangat mengganggu pikiran Kyuhyun. Untuk pertama kalinya ada gadis yang bisa menarik perhatiannya setelah perginya Yeon Do.
“Kau terus memperhatikannya”suara Su Won membuat Kyuhyun berpaling ke arahnya.
“Siapa? Aku?”Kyuhyun menggeleng.
“Kau terpana olehnya?”Su Won terus menatap deretan Roti di etalase kaca dengan keinginan tinggi.
“Aku?”Kyuhyun menggeleng lagi.
“Siapa? Aku?”Su Won menatap Kyuhyun sebentar dengan jengkel kemudian berbalik lagi.
“Ya.. dia sosok yang menarik. Lagi pula dia Asia”ucap Kyuhyun kemudian. Su Won terkikik.
“Dia lebih dari itu. Dia bukan Cuma Asia..dia pemilik toko ini”Kyuhyun mendelik. Sangat tidak percaya.
“Gadis semuda dia?”Kyuhun mengikuti Su Won ke etalase berikutnya.
Su Won berheti. Badannya kemudian berbalik. Menatap Kyuhyun yang ada di hadapannya. Kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Kyuhyun. Tanganya lalu menarik telinga Kyuhyun yang sedikit lebih tinggi darinya.
“Dia.. pemilik MAMA”bisiknya kemudian. Kyuhyun tersenyum.
***
Kyuhyun
Dia gadis yang menarik. Ini pertama kalinya aku bisa memikirkan orang yang baru ku temui hari ini. Orang yang bahkan belum ku ketahui siapa namanya.  Mata coklatnya yang bulat dan bibir mungilnya sangat cocok dengan wajah ovalnya. Dia sangat bersinar.
“Berhentilah berpikir. Kita sudah sampai”Su Won menarikku dari mobil.
“Dia sangat bersinar. Kau lihat?”aku menatap Su Won mencari penjelasan.
“I think yes..Dia yang terbaik”ucapnya. Aku benar.
“Sampai kapan kau di sini?”Su Won menarik koperku melewati tangga.
“A month?”sahutku tidak yakin.
“Kau ? Kau ingin Woo Ri datang dan menyeretmu pulang?”Su Won bergidik ngeri.
“Itu..ah..aku tidak akan membayangkannya. Biarkan saja”aku membanting tubuhku ke sofa.
“Kau memang gila”Su Won melempar bir dingin ke arahku.
“Aku sudah muak dengan kantor. Mereka selalu membungkuk ke arahku saat pagi. Aku muak”Ku tenggak bir itu. Su Won tertawa.
“Itu yang kau inginkan bukan?”Su Won duduk di depanku sambil tersenyum.
“Bukan aku. Tapi ibuku”ralatku dengan cepat.
“Kau adalah satu-satunya anak laki-laki laki ibumu. Pantas saja dia membuatmu jadi pemimpin perusahaan”terusnya.
“Yang sebenarnya tidak aku inginkan”ucapku cepat.
*** 
Kang Yura
Foto itu masih terpajang di atas meja. Orang yang tersenyum dan memakai tuxedo hitam. Memeluk perempuan yang lebih pendek darinya dengan bahagia. Matanya yang tajam menyiratkan kebahagiaan yang menenangkan.
“Jun Woo…aku merindukanmu”
Dua tahun berlalu semenjak kepergiannya. Orang yang sangat mencintaiku. Cinta pertamaku yang hanya bertahan seumur jagung. Takdir memang kejam karena memisahkan kami yang baru menikmati indahnya cinta. Dia meninggalkanku sendirian.
“Dulu aku bisa memelukmu..tapi sekarang tidak”foto itu berkilau.
 “Kakak?”Yun Woo muncul dari balik pintu.
“Ya?”aku mengusap sudut mataku yang tiba-tiba berair.
“Kita harus pergi jika tidak mau terlambat”suaranya terusik.
“Kau sudah menempel pemberitahuan di toko?”suaraku bergetar.
“Tentu saja”sahutnya tersenyum.
“Baiklah..kita akan berangkat”ku letakkan foto itu ke tempatnya lagi.
***
Author
Yura menatap nisan yang ada di hadapannya dengan pasrah. Ada sedikit rasa terusik di batinnya yang lama memendam rindu. Ukiran nama Kim Jun Woo di atas batu. Nama yang selama ini masih setia menghuni setiap relung hatinya. Orang yang di cintainya.
“Aku datang Jun Woo”tangannya meletakkan krisan di atas tanah.
“Aku tidak akan bisa meninggalkannya sendiri, Kakak ipar”Yun Woo juga melakukan hal yang sama.
“Kau harus belajar pergi Yun Woo”ucap Yura. Yun Woo menatapnya tajam.
“Kau mulai mengusirku?”Yura tersenyum. Menggelengkan kepalanya.
“Kau harus mulai mencari pacar dan menikah”terangnya kemudian. Yun Woo cemberut.
“Belum saatnya aku melakukan itu. Aku harus membantumu dulu baru menemukan takdirku”Yun Woo memeluk Yura.
“Aku harus lebih waspada”Yura tertawa.
***
Kyuhyun turun dari mobil Su Won. Matanya meneliti tempat itu, sebuah pemakaman di pinggiran kota. Kesan kuno dan mistis tertangkap matanya. Tiba-tiba bahunya bergidik tanpa sebab. Sepertinya ada yang memperhatikannya sejak tadi.
Pemakaman Esterbloom.
“Kyuhyun! Cepatlah!”Su Won berteriak dari arah gerbang masuk tempat itu.
“Ash.. kau ini apa? Langkahmu cepat sekali!”gerutunya menyusul Su Won yang melangkah lebih dulu.
Di jalannya Kyuhyun melihat gadis itu lagi. Berjalan membelah jalan setapak pemakaman itu menuju pintu keluar. Matanya tiba-tiba teralihkan dan Fokus ke arah gadis itu. Tapi ia tidak sendiri. Suara Kyuhyun  keluar begitu saja tanpa ia minta. Entah keberanian darimana.
“Nona!”panggilnya. Gadis itu menoleh.
“Ya?”jawabnya bingung. Kyuhyun mendekat.
“Aku suka rotimu. Boleh aku tau siapa namamu?”tanyanya tanpa basa-basi.
“Kang Yura”jawab gadis itu singkat.
“Aku akan menemuimu lagi nanti. Sampai jumpa”pamit Kyuhyun cepat. Menyembunyikan senyum anehnya. Meninggalkan Yura termanggu dengan Yun Woo yang terkikik.
***
Su Won menemukannya. Tapi sudah ada dua buah krisan di atas tanah. Ia tau pasti tidak akan salah. Matanya kembali meneliti ukiran nama di batu itu. Namanya benar..pasti ada yang datang sebelum mereka.
“Sudah kau temukan?”Kyuhyun menepuk pundak Su Won.
“Kim Jun Woo..malaikatmu”Su Won menundukkan kepalanya.
“Dia adalah malaikat terbaik”sambung Kyuhyun.
“Semoga ia selalu bahagia di sana”Su Won meletakkan krisannya bersama dua lainnya.
“Dia akan selalu bahagia..merasakan jantungnya yang berdetak di dalam tubuhku”Kyuhyun melakukan hal serupa.
“Kau benar”Su Won menimpali.
Tepat hari ini.. dua tahun yang lalu..satu orang pergi.. dan orang lain bisa bertahan karena kepergiannya…
***
To be continued.. Keep RCL ne^^
#LilyPark







Selasa, 08 Desember 2015

Devil Paradise

Tittle: Devil Paradise
Main cast: Cho Kyuhyun ,  Park Hyuri
Rate: 16+
Lenght: Part
Auhtor: Lily Park
                Fb: Nurillaiyah(LY)
                Twitter: @magnolia2498
Genre: Love, hurt, life drama
Sumary : Cinta yang selamanya  tidak pernah ada, yang ada hanya pilihan selamanya.
~~~Please.. tinggalkan jejak kalian. Bantu mimin ya~~~
***
Kyuhyun
Saat aku berpikir itu sudah lebih dari terlambat. Sudah ada berbagai macam hal yang terlanjur terjadi di antara kami. Tak ada lagi yang dapat aku lakukan untuknya untuk saat ini. Saat ini aku hanya bisa berharap dia akan mau menerima keputusanku apapun yang akan terjadi.
Sesungguhnya aku menginginkannya. Sangat menginginkannya.
“Menikahlah denganku”seruku saat kedua kakinya hampir melewati pintu apartemenku.
Kakinya berhenti tepat setelah kata itu keluar dari mulutku. Aku tak bisa menangkap ekspresinya saat itu. Tapi yang aku tau dengan pasti dia mendengarnya. Mendengar setiap huruf yang aku ucapkan barusan. Dia pasti mengerti apa yang aku inginkan.
“Tidak bisa”ucapnya tanpa berbalik.
“Aku tak akan bisa menikah denganmu. Aku tidak akan bisa menjadi ibu dari anak-anakmu Kyuhyun. Aku tidak akan bisa membuatmu bahagia”sambungnya. Aku hanya mampu bernafas dengan berat.
“Aku yakin kau bisa. Aku selalu yakin kau mampu bila bersama denganku. Aku akan selalu bersamamu apapun yang akan terjadi. Percayalah padaku”gadis itu berbalik. Terlihat butiran air mata jatuh ke bawah melewati pipinya yang tirus.
“Aku tidak akan pernah bisa bersamamu walau dunia mentakdirkan kita bersama”terangnya. Terasa ada ribuan jarum yang melayang kearah hatiku dan menancap. Sangat menyakitkan.
“Kyuhyun…aku sangat mencintaimu”suara seraknya terdengar. Aku hanya bisa menatap kedua matanya dari jauh. Mata yang bulat hitam itu basah karena air mata yang tak kunjung berhenti. Tangannya berusaha menghambatnya tapi sia-sia. Itu tetap menetes dengan derasnya.
***
“Bagaimana dengan yang ini?”tanya suara lembut di sampingku.
“Aku tidak yakin. Mungkin stroberi dengan campuran sedikit lemon?”tebakku menelannya.
Gadis itu terkikik. Suaranya terdengar sangat merdu. Meskipun mataku tidak melihatnya dia pasti sedang tersenyum menang kali ini. Dia sedang menikmati perannya membuatku menjadi kelinci percobaannya.
“Es krim selanjutnya oppa”ucapnya dengan manis lalu sendok dingin itu menghampiri mulutku lagi.
“Apa ini? Rasanya tidak asing?”tanyaku begitu mulai menelannya.
Gadis itu tertawa.
“Menurutmu?”tanyanya meledek.
Aku kembali merasakannya. Dengan perasaan yang tidak biasa. Seperti rasa yang tak pernah aku cicipi sebelumnya. Sepertinya sensasi yang sangat ku benci. Rasa yang paling ku hindari. Rasanya seperti.. rasanya seperti..
Lidahku merasakannya lagi dan lagi. Aku kembali menelannya. Oh.. tidak.. ini pasti.. ini… buah ini..
“Apa ini?”aku akhirnya menghabiskan sisanya dalam mulutku.
“Benar oppa.. kau benar sekali. Kau baru saja menelannya. Buah yang paling kau benci.. pisang”tawanya meledak.
Ada berbagai rasa cemas di dalam diriku. Aku baru saja menelannya. Menelan pisang.. buah yang paling aku benci!
Aku membuka penutup mataku dengan kasar. Gadis itu tertawa dengan kerasnya.  Di sampingku pipinya yang tirus berwarna merah muda. Kulitnya yang putih susu berubah karena tawanya. Dia seperti tomat ceri. Seperti tomat ceri yang memerah.
“Ya… kenapa kau melakukannya?”eluhku padanya. Dia akhirnya berhenti menertawakanku.
“Kau harus menyukainya saat menikah denganku nanti. Jadi mulai sekarang kau harus mulai memakannya”jelasnya. Aku mengernyit.
“Siapa bilang kita akan menikah?”matanya melotot ke arahku. Seperti tatapan beruang lapar.
“Jadi? Kau tak ingin menikahiku?”selidiknya.
“Mungkin.. mungkin tidak”jawabku asal. Sepertinya dia akan marah besar.
“Yak!!! Kau jahat oppa!! Baiklah!! Kita tidak akan menikah”aku tertawa melihatnya menggembungkan pipi kesal. Berpaling dari pandanganku.
“Hyuri.. saranghae”dia  tetap mengacuhkannya.
***
Lagi-lagi dia terlambat. Terlambat memenuhi janjinya padaku. Sudah hampir lima jam menunggunya membuatku sedikit kesal. Bukan hanya sekali. Tapi berkali-kali dia selalu terlambat memenuhi janjinya padaku. Dia mulai berubah sejak setahun terakhir.
Setahun terakhir sejak empat tahun hubungan  kami.
“Maaf oppa.. ada sedikit urusan yang baru aku selesaikan”terangnya begitu datang dan duduk di depanku.
Aku berusaha mengerti. Aku memahami pekerjaannya yang sangat menyibukkannya belakangan ini. Dan berusaha tidak ikut campur di dalamnya. Aku merelakannya karena prinsip hidupnya yang jauh berbeda dengan kehidupanku.
“Jadi kita akan melewatkannya?”tanyaku begitu dia selesai menyeruput teh dalam cangkir porselen di depannya.
“Melewatkan? Oh.. tentu saja tidak oppa.. kita akan melihatnya malam ini”jawabnya menantapku intens.
“Bisakah kita berangkat sekarang?”aku melihat jam di pergelangan tanganku lalu beralih padanya.
“Baiklah. Kita masih punya dua jam lagi sebelum tengah malam”ucapnya menarik tas tangan di sampingnya.
Di dalam mobilku hanya lagu-lagu ballad yang terdengar. Suasana seoul tak seramai biasanya. Mungkin karena musim dingin yang baru saja datang. Juga tahun yang akan berganti dalam beberapa jam. Jalanan yang biasanya ramai mendadak lengang karenanya.
“Oppa.. bisakah kita makan teoppokki?”rajuknya. Aku tersenyum.
Inilah gadisku yang sebenarnya. Gadis yang biasanya bergelayut manja padaku dan merajuk setiap ada kesempatan. Gadis yang selalu bisa membuatku tersenyum dan tertawa sepanjang waktu. Dia alasan terbesarku bertahan dengan hubungan ini.
“Jadi kau ingin teoppokki?”dia mengangguk.
“Teoppoki yang sangat pedas”ucapnya menambahkan.
“Aku tidak mau makan teoppokki”godaku. Mata bulatnya menatapku dan mulai mendekat padaku.
“Harus”bisiknya di telingaku. Dia tidak bisa di bantah.
“Yak!!! Aku sedang menyetir!!”teriakku. dia tertawa.
***
Tahun telah berganti. Tiga detik yang lalu kami meninggalkan 2014. Sekarang tahun 2015 menyapa.
Tahun kelima yang akan kami jalani bersama. Tahun yang semakin terasa di hari-hariku. Akankah dia akan selalu bersamaku dan menemaniku? Atau dia akan pergi meninggalkanku sendirian?
Tak ada yang tau.
“Oppa..”panggilnya.
Aku melihat dua matanya meneteskan air mata. Aku tidak tau kenapa, tapi menyisakan sedikit rasa cemas dan khawatir di benakku. Apa yang salah dengannya? Apa yang tidak aku mengerti darinya? Apakah aku melewatkan sesuatu?
“Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”tanyaku. Anggukannya menjawab.
“Apa itu?”lanjutku. gadis itu mendekat dan menarik tanganku keluar dari kerumunan orang.
“Oppa.. aku harus pergi sekarang”terangnya. Aku mengeryit.
“Eomma.. dia ada di rumah sakit sekarang”lanjutnya. Dia memelukku.
Tangannya melepaskan bahuku. Lalu dengan cepat berbalik meninggalkan aku sendiri di bawah pohon maple tanpa daun. Angin yang bertiup menegaskan dingin yang tak biasa. Salju yang turun di saat-saat dia pergi. Seperti dia membawa sebagian hatiku.
“Hyuri..”tiba-tiba kakiku mengikutinya.
Pertama melangkah. Lalu mulai berlari mengejarnya. Tapi sebuah mobil membawanya pergi. Aku melihat dengan jelas. Seorang laki-laki membelai pipinya dan mengecup bibirnya singkat. Hal yang sama yang sering aku lakukan.
“Hyuri..”suaraku memelan. Aku yakin dia tak akan mendengarnya.
***