Senin, 03 Juli 2017

FF Spring Day

Cast:
·         Jeon Jung Kook
·         Kang In Ha
·         Kim Seok Jin
Genre: Sad, Tragic, Love
Author: Ahn Ri

Waktu menjadi berjalan lambat saat kau benar-benar kehilangan seseorang. Saat dia benar-benar tak ada di sisimu lagi, hidupmu menjadi semakin kosong. Tak ada lagi tawanya, senyumannya, bahkan deru napasnya yang bisa kau ketahui. Kau kehilangan dia dan bayangannya di hari-harimu.
Membuatmu…sangat merindukannya.
Andai saja, aku hanya berandai. Dia masih menggenggam erat tanganku dan tertawa bersamaku saat ini, semua ini tidak akan sesakit ini. Andai, dia tidak pergi begitu cepat dan meninggalkan semua penyesalan hebat dalam hidupku, semua tak akan membuatku kecewa separah ini.
Saat melihatnya di foto tersenyum dengan cantiknya, hatiku sakit. Saat melihatnya tertawa di foto membuat hatiku ngilu. Saat melihat hal yang dia suka, aku mengingatnya. Saat-saat musim yang paling di sukai terjadi, membuatku sakit. Aku menyesal telah melewatkannya begitu saja.
Dulu, mengucapkannya begitu sulit. Bahkan begitu sulit saat berlatih di depan kaca sambil membayangkan wajahnya. Dia memang mempesona. Hingga aku tak bisa berpikir dengan jernih. Dia memenuhi semua ruang dalam tempurung kepalaku, singkatnya, dia menguasai otakku.
“Aku merindukanmu,”sekarang kata itu bebas mengalir. Tapi percuma, dia telah pergi sangat jauh.
Dan itu membuatku semakin menyesali semuanya. Semua yang terjadi hingga aku bisa dengan bodohnya kehilangan dia.
“Jung Kook?”panggil sebuah suara membuyarkan semua kenanganku tentangnya.
“Ya?”
Jin berdiri di belakangku. Orang itu tersenyum saat tanganku meletakkan kembali foto orang itu. Wajah Jin cerah, meskipun kesedihan di sana masih terlihat dengan jelas. Wajah itu selalu seperti itu. Sejak saat itu, Jin memasangnya dengan setia.
“Sudah saatnya, kita harus pergi.”
“Hyung…aku..tidak bisa pergi..”
***
Musim dingin terjadi di bulan agustus. Saat aku menemukanmu untuk pertama kalinya. Butiran salju jatuh menapaki bumi di hari yang dingin itu. Kau berdiri di bawah pohon maple yang kehilangan daunnya, dengan syal tebal melilit lehermu. Tanganmu membuka menangkap mereka dengan seulas senyum di bibirmu. Kau begitu indah.  
Seperti butiran-butiran salju yang turun dari langit, akankah aku mendapatkanmu jika aku menjadi mereka?
Akankah lebih mudah bersamamu jika aku adalah mereka yang bisa membuatmu terseyum?
“Kang In Ha!”
“Hey! Tuan Jeon!”
Aku menjadi bodoh. Itu terjadi begitu saja. Itu semua karenanmu.
Sejak saat itu. Aku ingin selalu ada untukmu dan menggenggam tanganmu. Aku ingin memberikan rasa yang hangat, di musim yang dingin itu. Aku ingin menjaga hatimu dari rasa dingin yang mungkin membekukan itu. Aku tidak ingin kau sakit hingga kita mendapatkan musim semi yang kita inginkan.
Aku ingin melihatmu seperti bunga-bunga magnolia yang bermekaran di musim semi yang indah di tahun setelahnya dan  setelahnya lagi. Aku ingin selalu bisa menemanimu. Menjadi hal yang berharga yang kau sukai.
Seperti mereka yang membuatku bahagia, aku juga ingin membuatmu bahagia. Sama seperti itu. Aku memulai semuanya dengan satu langkah lebih maju, memberanikan diri menjadi seorang yang lebih dekat denganmu, Teman.
“Hey! Kenapa bediri di sana bodoh!”
Tawamu begitu nyaring saat memanggilku mendekat, meskipun sebenarnya itu sebuah candaan humor yang sangat aku benci. Aku tetap bahagia meskipun kau memanggilku bodoh. Walaupun sebenarnya aku tidak benar-benar bodoh.
“Berhenti memanggilku bodoh. Aku tidak bodoh!”
Kau selalu mengusap kepalaku saat aku marah. “Aigo..apa nunna membuatmu marah? Maaf..”
Aku selalu menyukainya saat kau melakukannya, meskipun aku sadar, kau tidak lebih tua dariku.
“Kita hanya beda beberapa hari, apa aku harus memanggilmu nunna?”
“Aigo..tuan Jeon. Kau benar-benar dingin padaku..”
Dan saat itu kita tertawa bersama. Di tengah musim dingin dengan hati yang terasa hangat.
***
Salju turun sedikit demi sedikit, semakin sedikit hingga akhirnya mulai pergi. Aku merindukanmu, sampai kapan aku harus menahannya?
Berapa lama aku harus menunggumu?
Berapa lama lagi tidurku harus terusik oleh kenangan tentangmu?
Aku tidak menyesalinya, mengenalmu. Tapi aku sekarang menyesali kebodohanku karena membiarkanmu pergi begitu saja. Aku membiarkanmu pergi tanpa tau bagaimana perasaan sebenarnya yang aku miliki padamu.
Sepanjang malam yang aku habiskan tanpa tidur, aku menantikan kedatanganmu. Itu semua penantianku untuk bertemu dengamu. Menantikan langkah-langkahmu untuk menujuku. Berlari mendekat dan menyembuhkan seluruh rasa rinduku. Mengenyahkan semua rindu itu pergi.
“Sampai kapan?”tanya Jin saat  dia bertemu denganku.
“Sampai musim semi”aku selalu menjawab seperti itu.
Melewati ujung musim dingin yang begitu dingin sampai hari-hari menjadi dingin, hari tanpamu begitu berat. Saat butiran salju turun semuanya menjadi lebih lambat, semua penantianku. Tapi sekali lagi, kata-katamu mampu membangkitkanku.
“Musim dingin bukanlah musim yang patut kita benci, meskipun musim semi lebih indah. Inilah musim yang akan mengantarkanmu pada kebahagiaan musim semi yang sangat kau kagumi. Percayalah..tak akan ada musim semi jika tak datang musim dingin.”
Aku membiarkan diriku tenggelam dengan semua kenangan-kenangan tentangmu yang tak mau pergi. Semuanya enggan meninggalkanku dan memilih tinggal. Ini bukan hanya tentang cerita masa lalu, tapi tentang kita dan musim semi yang kita nanti.
“Aku hanya harus bertahan sampai bunga-bunga bermekaran. Tolonglah, biarkan aku tinggal sedikit lebih lama.”
Jin menundukkan kepalanya. Dia tidak lagi bisa menatapku.
***
Entah siapa yang berubah diantara kita. Kau begitu membencinya dengan tiba-tiba. Kau menjauh. Kau menghilang dari hariku dengan begitu tiba-tiba. Meninggalkanku dengan tanda tanya besar yang tak terjawab oleh jawabanku sendiri. Semua logikaku, enyah entah kemana.
 Kau membenciku. Kau meninggalkanku tanpa sepatah katapun dan pergi menghilang seperti angin. Hanya seperti itu, dengan alasan yang hanya kau ketahui sendiri. Tapi aku tidak pernah sekalipun melupakanmu. Tidak sekalipun berhenti memikirkanmu.
Jujur, aku harus mulai melupakanmu. Ini sudah terjadi sekian tahun. Aku harus menghapusmu untuk melanjutkan hidupku. Karena itu jauh lebih sakit. Lebih menyakitkan daripada menyalahkan semuanya padamu.  Kau membuatku jatuh ke dalam dilema.
“Kita benar-benar harus pergi.”
“Biarkan aku! Biarkan aku disini, Hyung!”
Aku benci mengeluarkan semua rasa sakit ini. Seperti asap yang mencemariku, seperti karbon dioksida yang meracuniku. Meskipun aku katakan akan menghapusmu, tapi aku tidak bisa benar-benar membiarkanmu pergi karena masa lalu kita.
“Kau selalu keras kepala. seperti batu! Aku menyesal mengenalkannya padamu!”
Meskipun Jin benar. Aku benar-benar tidak bisa membencimu.
***
Musim dingin memang musim yang panjang, membuatku semakin mengingatmu. Merasakan rasa tersiksa yang amat sangat karena rindu ini. Semuanya menjadi sangat berat untuk ku rasakan. Karena perjalanan yang masih panjang ini sangat melelahkan.
Kau tau semua itu. Kau pasti mengetahui semuanya. Kau adalah teman, sahabat terbaik yang pernah aku punya. Itu semua pasti pilihan yang sangat berat. Tapi kau benar-benar memilihnya. Kau memilih diam dan tak mengatakan apapun.
Kau tau pagi yang sangat cerah akan datang. Tanpa adanya kegelapan dan rasa dingin di udara yang menyelimutinya. Kau tau musim dingin tak akan berlangsung selamanya. Kau tau semuanya, hingga takdir kita.
“Hanya beberapa malam lagi. Aku akan menemuimu dengan tangan terbuka dan rasa bahagia. Dengan diiringi musim semi bersama mekaran bunga warna-warni yang akan membuatmu senang.”  
Kau membuatku percaya, musim semi yang indah benar-benar ada.
“Kita benar-benar harus pergi sekarang. Apa kau benar-benar ingin melakukan ini padaku?”Jin meneteskan air matanya.
Itu adalah pertama kalinya dia menangis setelah sekian lama. Aku tau itu begitu menyakitkan untuknya. Tapi.. aku benar-benar tak bisa pergi. Aku ingin di sini dan pergi jika memang sudah waktunya.
“Biarkan aku sedikit lebih lama Hyung”aku tidak ingin kehilangan dia lagi. In Ha.
“Tapi Dokter tak akan bisa menunggumu!”
“Hyung!”
Aku benar-benar tak ingin melewatkannya.
***
Melewati musim dingin memang melelahkan. Begitu dingin dengan udara yang menusuk kulit. Semua menjadi beku. Hati manusia juga akan mengalami hal yang sama jika terlalu lama menunggu dan tak merasakan apapun. Mereka akan mati dan membeku seperti batu.
“Dia..tak akan bisa menunggumu. Dia..sudah terlalu lama. Jika diantara kalian saling menunggu, jadi siapa yang akan lebih tersakiti?”
“Dia?”tanyaku. Jin mengangguk.
“Ya…karena dia sangat menginginkannya.”
Sampai hari-hari menjadi musim semi, tak bisakah kau menunggu hingga saat itu?
Sampai di hari bunga-bunga bermekaran, tak bisakah kau bertahan lebih lama?
Tolong tetaplah tinggal, tetap tinggal disini lebih lama lagi. Tetaplah tinggal di sisiku hingga musim semi.
“Dia sudah pergi. Ini kesempatan terakhirmu..”
“Hyung! Tak bisakah kita menunggu? Besok sudah musim semi”
“Aku bisa..tapi..dia tak akan bisa. Donor organ harus secepatnya dilakukan, dan dia..sudah memberikan jantungnya untukmu”
Hatiku hancur. Hatiku remuk mendengar semuanya berakhir begitu tragis seperti ini. Tak pernah terbayangkan senyuman cantikmu kala itu menjadi senyum terakhir yang sangat indah untuk diabadikan dalam memori.
“Sebelum In Ha meninggal, dia sudah merencanakan sekian lama. Dia sudah tau umurnya tak akan bertahan lebih lama setelah bertemu dengamu.”
Kau selalu mengatakan musim semi adalah musim terindah yang sangat kau kagumi. Tapi.. aku mulai membencinya. Aku mulai membenci semuanya.
“Hyung..aku ingin bersamanya..hingga saat terakhir.. aku ingin mencintainya hingga saat terakhir. Maaf hyung, aku benar-benar tak bisa pergi, untuk bertahan hidup sendirian”


The End..

Rabu, 04 Januari 2017

FF Cause I Love You

Cause, I Love You


Cast:
-          Jeon Jung Kook
-          Go Hayoung

Genre: Love, Romance

Rate: pg 12

Length: Oneshoot

author: Lily Park

Setiap hari aku mendengar orang-orang memanggil namaku, mereka terus meneriakkan namaku setiap saat. Mereka tersenyum dan tertawa saat memanggilku. Mereka sangat bahagia dengan tatapan bersahabat dan juga sangat hangat, tapi aku merasa sebaliknya, aku merasakan kekosongan dan kehampaan yang amat sangat.

“Go Hayoung!”sesaat aku mengenali suara di belakangku.

Aku menoleh dan orang itu melambaikan tangannya padaku dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Saat itu aku sangat senang, dia bisa melihatku di tengah remang lampu jalanan kota Seoul. Aku sangat senang mendengar suaranya.

“Ne..”suaraku langsung menghilang saat aku berbalik.

Tapi ia sedang melambai ke orang lain yang berjalan tidak jauh di depanku, namanya juga Go Hayoung. Go Hayoung itu terlahir sebagai keluarga kaya, pintar dan juga banyak disenangi semua orang, tidak sepertiku yang hanya menjadi peran pendukung di dalam kisahku sendiri.

Namaku…Go Hayoung, hanya Go Hayoung biasa.
*

“Tidak! Aku tidak mau!”jawabku.

“Aku tidak suka melihatmu…”ucapnya sekali lagi dan meletakkan cincin itu di atas meja.

“Jin-ssi!”badan tegap itu berbalik dan kedua matanya menatapku.

Aku tidak ingin melihatnya pergi dengan membawa hatiku, saat ia mengatakannya aku benar-benar tidak ingin mendengarnya. Satu kata berpisah yang sangat membuatku tersiksa, aku sangat tersiksa dengan kenyataan yang harus aku terima saat ini.

“Aku..tidak ingin menemuimu lagi, Aku mencintai Hayoung,”ucapnya dengan jelas.

Kaki-kaki panjangnya pergi tanpa meninggalkan satupun jejak di lantai kafe itu, dia telah membawa pergi semuanya, hatiku, mimpiku, dan juga cintaku. Orang itu telah membuatku hancur dalam sekejap, ia telah merampas semuanya.

“Baiklah..mari kita tidak saling bertemu lagi. Goodbye, Kim Seok Jin!”

*

“Hayoung? Kau ingat aku?”tanyannya begitu menolongku yang terduduk jatuh di lantai.

“Kau siapa?”tanyaku bingung.

Wajah yang tidak asing dan juga suara yang tidak asing. Orang ini seperti seseorang yang datang dari masa lalu dan kembali untuk menghukumku karena aku sama sekali tak bisa mengingatnya. Dia orang yang tampan dan juga berbadan tinggi dengan mata yang menyenangkan untuk dipandang. Di mana aku mengenalnya?

“Ini aku Kookie,”suara itu mengalun lagi.

“Kookie?”aku berusaha mengingat tapi nihil.

“Tuan Jeon! Cepatlah!”suara laki-laki yang jauh di depan menyerukan namanya.

“Aku akan menemuimu nanti,”ucapnya lalu pergi meninggalkan aku setelah membantuku berdiri.

*

 “Apa kau lulusan SMA Sekwang?”Ahreum mendekatiku dengan membawa sebuh foto.

 “Oh…lihat ini, dia sangat mirip denganmu Hayoung-ssi!”seru Eun Young.

Jari Eun Young menunjuk seorang gadis berwajah datar dan berkaca mata yang duduk di barisan ujung kanan. Aku tersenyum sebentar dan menatap foto itu, apa sampai saat ini aku masih tidak berubah? Apa aku masih sama seperti lima tahun yang lalu?

“Tet..bukan mirip, itu memang aku Eun Young!”Eun Young menatapku tak percaya.

“Tim jangnim! Kau benar-benar tak berubah!”aku hampir tertawa saat mendengarnya.

“Jadi kau satu kelas dengan tuan Jeon? Woah! Daebakk!”seru Ahreum tak kalah heboh.

“Tuan Jeon? Jadi foto ini miliknya?”semua yang ada di sana menganggukan kepala mereka bersamaan.

“Tapi kenapa Tuan Jeon menatap ke arahmu tim Jangnim?”tambah Ara yang membuat kami penasaran.

*

Aku hampir tersedak saat Eun Young bercerita tentang pernikahan seorang artis agensi A dengan seseorang bernama Kim Seok Jin. Tapi langsung ku tepis segala pikiran bodoh dalam otakku, itu tidak mungkin Kim Seok Jin yang ku kenal.

 “Bukankah kau satu sekolah dengan artis itu?”tanya Ara padaku.

“Ya..saat kami SMA ada dua Go Hayoung, Go Hayoung cantik dan juga Go Hayoung saja,”aku menyeruput kopiku tanpa rasa.

Semua di sana menatapku penuh rasa ingin tau. Ara bahkan mendekatkan wajahnya dekat denganku sementara Eun Young mendekatkan telinga kirinya padaku, mereka begitu terobsesi dengan ceritaku.

“Lanjutkan Tim Jangnim!”pinta Ah Reum.

“Ah..kalian ini kenapa! Cepat habiskan makan siang kalian dan kembali ke kantor!”aku menggeser kursiku dan pergi dari sana.

*

Aku sudah menangis lebih dari setengah jam, ada lebih sepuluh panggilan dari Eun Young. Aku memang gila meninggalkan pekerjaanku yang menumpuk di kantor dan menangis sendirian di atap, aku memang bodoh.

“Aku tidak suka tangisanmu, Hayoung,”suara itu lagi yang menyambangi telingaku.
Aku melihat sebuah tangan mengulurkan sapu tangan padaku, ku telusuri tangan itu dan menemukan wajah orang yang menolongku kemarin. Aku langsung menutup wajahku yang kacau dengan panic.

“Tuan Jeon, bisakah kau berbalik sebentar?”pintaku padanya.

Tanpa berkata apapun ia langsung membalikan badannya. Saat aku sudah selesai membersihkannya ia langsung duduk tanpa bertanya. Wajahnya benar-benar damai dan senyumnya membuatku sedikit tenang.

 “Kau terlalu focus dengan duniamu dan tidak melihat dunia luar, kau selalu seperti itu,”suaranya bergetar.

Aku berpaling sebentar dan menatapnya lagi, tapi saat itu ia meneteskan air matanya. Aku tidak tau kenapa, tapi aku bisa merasakan perih di dalam hatinya.

“Malam itu saat aku memanggilmu, Kenapa kau tidak menyahutnya? Kenapa kau bodoh sekali Go Hayoung!”.
Aku membeku.

“Aku benci saat Hayoung lain melambaikan tangannya saat aku memanggilmu!”laki-laki itu memelukku.

“Aku ingin melindungimu karena aku mencintaimu, aku ingin mengatakan pada mereka bahwa kau lebih cantik dari gadis itu, Go Hayoung yang lain! Tapi kau tak pernah menyadarinya Go Hayoung!”lanjutnya.

“Mianhae..Jungkook-ssi. Karena aku terlalu bodoh,”

Terima kasih karena mencintaiku, Jeon  Jungkook, cinta pertamaku.

Cerpen Then I Go

Then I go


“Seperti salju yang menunggu dirinya menghilang saat musim panas datang, aku juga menunggu kalian menghilang pelan-pelan agar aku bisa mengenang kalian dengan baik,”

Di tengah halaman yang berselimut salju, sebuah manusia salju berdiri menghadap jalanan kota Vancouver yang tak tampak karena tertutup salju setebal lebih dari tiga sentimeter. Ini sudah hari keempat bulan desember yang amat dingin, sangat dingin hingga serasa membuat hati seakan ikut mendingin dengan salju yang terus turun. Matahari menyinari halaman itu dengan sinarnya namun tak berhasil membuat rasa dingin di udara pergi, ini adalah musim terdingin yang pernah aku alami sepanjang lima tahun tinggal di sini. Musim yang membuatku menggigil bersama dengan hatiku.

Sepanjang tahun aku selalu lelah saat semua benda putih itu datang, mereka selalu berhasil mengurungku di dalam rumah dengan baju hangat berlapis dan segelas cokelat panas hingga enggan bergerak. Kehangatan itu memaksaku bertahan di dalam sini hingga banyak dari pekerjaanku yang terbengkalai selama musim berlangsung. Aku tak pernah ada masalah dengan semua musim, namun saat musim ini menyambut, aku selalu panik dan tak bisa mengontrol diriku sendiri, semua kendali dalam diriku hilang. Sudah ku coba berbagai macam cara agar agenda tahunanku tidak pernah terjadi, tapi semua usahaku selalu saja gagal, setiap musim dingin seluruh tubuhku bergetar hebat. Aku sangat ketakutan setengah mati. Sedikit-demi sedikit gambaran tentang kejadian itu kembali terputar di otakku. Aku bisa melihat dengan jelas saat kedua orangtuaku tergeletak bersimbah darah dengan luka yang menganga. Aku masih bisa mencium bau anyir darah mereka sampai detik ini, darah orang-orang yang sangat aku sayangi.

Saat aku memandang ke luar jendelaku aku bisa melihat bayangan ayahku bersimbah darah di halaman, saat aku berjalan menuju dapur aku bisa merasakan darah yang terinjak oleh sepatuku yang menggenang, darah ibu yang paling aku cintai dan kasihi. Begitu pula saat aku berbaring di atas kasur, aku bisa merasakan ada sosok yang tidur di sisiku, saudara kembarku, Agustin. Semua yang aku lihat akan terus berlanjut sampai musim ini berganti nanti. Semuanya akan terus terjadi berulang kali sebelum salju menghilang di akhir musim. Sadar atau tidak semua ini jadi penyakit kambuhan yang hingga saat ini belum bisa aku tangani, ini menyiksaku hingga sangat perih mengusik ketenangan.
Daun-daun maple mulai menghijau saat agenda tahunanku berakhir, batang-batang mendapatkan kesegaran mereka kembali, dan bunga-bunga mulai menguncup agar bisa mekar di waktu yang tepat. Mereka bersiap menyambut musim yang lebih baik dibanding dengan dingin yang baru mereka tinggalkan, aku juga demikian, aku harus bersiap memulai semuanya dari awal setelah guncangan hati oleh red winter yang selalu ingin aku hindari. Kejadian itu sudah lebih dari lima tahun yang lalu, tapi semuanya masih sangat jelas, semuanya. Tawa di malam itu, suara Agustin yang mengejekku, suara ibu yang melerai kami dan juga suara ayah yang membersihkan es di halaman, aku masih bisa mengingatnya dengan detail.
Malam–malam yang berharga itu harus ternodai saat dua orang perampok memaksa masuk ke dalam rumah kami. Ayah harus meregang nyawa saat seorang dari mereka menghujamkan pisau ke tubuhnya beberapa kali, ibu yang sedang berada di dapur juga harus kehilangan nyawanya karena menyiapkan makan malam, dan Agustin.. hanya dia yang bisa aku raih, namun setelah perjuangan kerasku dengannya, dia juga berakhir dengan nasib buruk karena melindungi saudara kembarnya yang bodoh ini.
“Aku akan menghentikan mereka.. Ane.. melompatlah!” perintahnya.
“Kita harus melompat bersama, aku tidak ingin pergi sendiri!” rengekku.
“Ane.. Kau harus selamat agar kami tetap hidup, aku sangat menyanyangimu,” ucapnya lalu mendorongku ke luar jendela kamar kami.
Itulah saat terakhir aku mendengar suara Agustin yang biasanya selalu membuatku merengek, meskipun dia sosok yang menyebalkan, dia adalah penyelamat hidupku yang tak bisa aku lupakan sampai sekarang. Saudara kembar yang menyebalkan itu menukar nyawanya demi keselamatanku.
Tiga buah nisan, di tempat yang sama, di jam yang sama, dan juga orang-orang yang sama yang sangat aku sayangi. Aku kehilangan tiga anggota keluargaku di saat yang sama, orang-orang berharga yang membuatku bisa menghirup udara segar hingga saat ini. Mereka yang meninggalkanku dengan sangat tragis. Ada kalanya aku sulit mempercayainya, bahwa mereka sudah pergi. Sulit menghapus kenangan indah mereka di rumah. Selama ini aku selalu merasa mereka masih hidup di sekitarku dan melakukan hal-hal yang biasanya mereka lakukan. Itu membuatku selalu tak menyadari bahwa mereka telah pergi dengan semua kenangan ini.
“Aku telah tumbuh dengan baik, aku telah menepati janjiku pada kalian agar hidup dengan baik,” ucapku sambil meletakkan karangan bunga ke makam mereka satu per satu. Makam ayah yang sangat aku hormati, ibu yang sangat aku sayangi dan Agustin yang sangat aku cintai.. mereka adalah semangatku agar aku tetap hidup di dunia ini meskipun ada dalam kesendirian.
“Tidak seharusnya kau berada di sini nona,” aku menoleh ke arah sumber suara itu.
“Jadi? Aku harus ke mana saat ingin melihat keluargaku?” tanyaku, pria itu bergeleng.
“Aku rasa kau tidak harus pergi ke mana pun untuk melihat mereka, karena mereka selalu bersamamu di dalam hatimu,” pria itu mengulurkan syalnya padaku, aku hanya bisa memandangi syal itu bingung. Selangkah demi selangkah akhirnya dia maju dan melilitkan syalnya ke leherku. Laki-laki asing ini melakukannya untukku. Setelah selesai kemudian bibirnya mengulas senyumnya dengan manis.
“Mereka yang pergi tak sepenuhnya pergi.. mereka ada di dalam sini,” tunjuknya ke arah hatiku.
Aku membenarkan posisi syal itu. Dan dua mata orang itu menatapku lurus. Dua buah mata yang sangat indah, pancarannya sangat terasa menenangkan saat mata kami bertemu. Karena rasa gugupku tiba-tiba datang, aku membuang pandanganku ke arah bahunya, dan melihat bulu kucing di sana.
“Siapa namamu, Tuan?” tanyaku tiba-tiba.
“Rain,” aku membelalakkan mataku.
Orang itu menatapku dan mengangguk. “Ya.. Rain yang seperti hujan,” jelasnya.
Aku tak pernah mengenalnya, tapi dia yang datang mengajakku untuk mengenal diriku sendiri. Rain adalah orang asing pertama yang mau peduli. Untuk sekarang hanya dia yang berhasil membuatku membuka diri. Sebenarnya.. hanya dia yang mampu melakukannya. Dia datang dan membawa warna-warna baru bagiku dan hidupku. Rain memberiku banyak tanpa meminta lebih.. dia datang dengan harapan yang tidak pernah aku kira.. “Aku datang untuk melindungimu,” Rain berhasil membuatku jatuh hati padanya. Dunianya yang sangat menarik itu membuatku selalu penasaran dan sejenak menyisihkan suasana hatiku tentang kenangan masa lalu dan agenda tahunanku yang menyakitkan. Saat salju datang hatinya mampu membuatku bertahan.
“Maukah kau menikah denganku?” ucapnya seraya mengulurkan cincin di kotak kaca itu padaku.
“Secepat ini?” tanyaku.
“Tidak butuh banyak waktu.. aku sudah mencintaimu,” terangnya lalu memasangkan cincin itu di jari manisku.
Tentu saja ada rasa bahagia yang datang menjalari hatiku saat cincin itu melingkari jariku, ada juga rasa bangga saat aku memang akan menikah dengan cinta pertama dan juga orang pertama yang perduli padaku. Sangat istimewa.
Hidup dengan baik dan melakukan apa pun dengan baik. Aku ingin melakukan semuanya dengan baik. Aku ingin mengurus suamiku dan membesarkan anak-anakku dengan baik pula. Itu adalah rencana yang selalu aku impikan sejak awal. Tapi takdir harus merenggutnya juga, Rain pergi dengan tragis saat sebuah kecelakaan besar terjadi di jalan besar pusat kota, dan sekali lagi.. orang yang aku kasihi harus pergi meninggalkan aku sendirian.
Dua minggu sejak itu aku merasa seperti gila, rasanya tidak percaya mengetahui semuanya. Orang yang aku cintai untuk pertama kalinya harus menghembuskan napas terakhirnya di tengah musim yang paling aku benci. Kejadian itu membuatku semakin membenci musim ini! Tubuhku mengalami hal yang sama lagi.. kali ini lebih parah dari yang sebelumya, suatu saat 911 harus membuat ambulan datang menjemputku karena hal itu. Tubuhku sukar merespon apapun yang otakku perintah, mereka tak mau melakukannya, semua itu.
“Nyonya, anda memiliki seorang bayi.. baru berumur 4 minggu, tolong jagalah kesehatan,” terang seorang perawat padaku. “Bayi?” ulangku.
“Ya.. seorang bayi.. ku harap kau mau merawatnya dengan baik, bayi itu masih rapuh karena tubuhmu terlalu lemah,” jelasnya. Perawat itu kemudian pergi.
Aku mengusap perlahan perutku. Anak ini adalah hadiah yang Rain tinggalkan untukku. Seseorang yang akan menemaniku hingga semuanya membaik, aku akan menjaganya.. dengan segenap jiwaku. Aku akan melakukan apa saja agar dia bisa tumbuh dengan baik. “Aku akan menjagamu.. Rain,”
Aku tidak akan membiarkanmu merasakan musim ini, kita akan pergi kita akan pergi ke tempat yang tidak akan didatangi oleh salju yang menyebalkan ini, kita akan melihat matahari yang selalu hangat dan sunset yang indah di pulau yang indah.
“Kau hamil?” tanyanya padaku. Aku menganggukkan kepalaku dengan segera.
“Anak suamimu yang meninggal itu?” tanyanya lagi. Dan sekali lagi aku mengangguk.
Kelahirannya tinggal menunggu hari, Rain kecilku akan merasakan keindahan di pulau berjuluk surgawi yang selalu dipuji banyak turis, tempat kelahiran ibuku, Indonesia. Tempat pertama yang ada di benakku saat merasa begitu benci dengan salju.
“Aku akan membesarkannya dengan baik,” laki-laki muda itu menatapku.
“Seorang diri?” ucapnya tak percaya.
Aku mengelus perutku ringan, terasa gerakan yang membuatku merasakan sakit, Rain kecil kami bergerak dengan lincah belakangan ini. Saat aku tidur dia membangunkanku dengan kaki kecilnya yang menendang-nendang dengan kuat. Aku sangat mengharapkan kebahagiaannya. Rain harus bahagia dengan hidupnya agar saat aku pergi aku tidak lagi memikirkan hal yang lain, aku tidak ingin Rain berakhir seperti aku yang hidup dalam masa lalu dan terjebak dengan memori lama yang menyakitkan.
“Apa kau mau membantuku?” tanyaku, laki-laki muda itu tertegun.
“Bagaimana aku bisa membantumu?” keningnya berkerut.
Awalnya tubuhku merasakan sakit yang sangat menyiksa. Seluruh tubuhku merasa lelah dan tidak berdaya, tapi sekarang semuanya terasa ringan dan lebih ringan lagi, rasanya aku seperti melayang. Aku seperti bebas terbang ke mana pun aku mau tanpa batas.
“Jadilah kebahagiaan untuk Rain,” suaraku kembali terngiang dan sekilas wajah pria itu tersenyum.
“Baiklah,” dejavu itu terputar dengan apik seperti susunan film.
Aku sudah menyerah dengan semua ini maafkan aku Rain.. Then I go to meet them that I love so much.. Mama meninggalkanmu bukan karena mama tidak mencintaimu.. tapi karena ini sudah waktunya mama pergi.. I love you as my heart pieces.

Selasa, 24 Mei 2016

FF Unlovable




Unlovable
Author: Lily Park
Length: Twoshoot
Genre: School, Love, Fantasi, etc .find by yourself.
Cast: Cho Kyuhyun, Zia Kim, Choi Siwon
Medsos:
-          Twitter: @magnolia2498
Add friend ne, silakan sapa saya dan share tentang ff bersama^^

Zia Kim
Inilah alasanku tidak pernah mengungkapkan identitasku yang sebanarnya, aku takut mereka akan kabur dan lari ketakutan jika mengetahui siapa diriku sebenarnya. Mareka akan menjauhiku dan menganggapku sebagai monster bahkan ada yang melihatku jijik. Oleh karena itu aku harus hidup dalam pelarian dan menyebunyikan jati diriku sebenarnya.
“Pulanglah ke Alaska,”Suara ibu begitu sedih saat aku menghubunginya.
Aku menghela nafasku dengan berat. Ia pasti sangat cemas saat ini. Dia akan lebih cemas saat tau apa yang baru saja aku alami. Ia akan sedih berkepanjangan karena membiarkanku hidup di Negara yang kejam ini sendirian.
“Aku tidak bisa pulang ibu, aku harus menemukan ayah”jawabku lalu memutus panggilan itu segera.
Maafkan aku ibu, aku tida bisa pulang sebelum semua rahasia ini terungkap.
*
Author
Zia Kim adalah gadis cantik yang sangat disukai di sekolahnya. Kepopulerannya mampu meluluhkan hati siapa saja dan membuat mereka jatuh cinta dalam sekali lihat. Hal itu juga berlaku pada seorang murid laki-laki seperti Kyuhyun. Gadis itu mampu membuatnya melupakan segalanya saat berada di sampingnya.
“Kau yakin baik-baik saja?”tanya Siwon.
“Tentu..aku baik-baik saja Hyung”jawabnya sambil berdiri dengan sendirinya.
Siwon tersenyum saat melihat Zia melintas di depan mereka, ialah sebab kenapa Kyuhyun terjatuh seperti itu. Pesona gadis itu membuatnya lupa akan segalanya, termasuk berjalan dengan baik menggunakan kedua kakinya.
“Berhentilah menatapnya, kedua matamu sudah hampir keluar”gurau Siwon saat mata Kyuhyun terus mengikuti Zia.
Kyuhyun berubah kikuk saat ulahnya tertangkap basah oleh Hyungnya. Kyuhyun kembali berjalan dengan normalnya, namun matanya masih terus mengikuti bayangan Zia yang berjalan lima langkah di depan mereka, lalu kedua matanya terfokus ke punggungnya. Punggung gadis itu memang  terlalu indah untuk dilewatkan.
“Kau! Zia!”panggil Siwon.
Zia menoleh secara mendadak membuat Kyuhyun tidak sengaja menatap langsung kearah matanya. Melihat itu Siwon tertawa dengan kejamnya sambil melambaikan tangannya pada gadis itu. Zia yang melihat keanehan Kyuhyun juga tidak bisa menahan tawanya, Kyuhyun benar-benar dalam keadaan  kikuk.
“Sunbae? Ada apa?”tanyanya setelah Kyuhyun dan Siwon berhasil mendekat.
“Dia ingin berkencan denganmu”seru Siwon.
“Ani…itu tidak benar”batah Kyuhyun dengan segera sambil melemparkan pandangan aneh pada Siwon.
“Baiklah..aku akan kencan denganmu, Cho Kyuhyun”
Zia tersenyum dengan manisnya sementara Kyuhyun hanya terdiam beku mendengar peryataan yang baru saja  keluar dari mulut gadis cantik berambut panjang itu. Siwon yang mendengarnya juga mendadak diam karena tidak menyangka gurauannya akan direspon serius gadis popular itu.
*
Cho Kyuhyun
Saat aku melihatnya untuk pertama kalinya, wajahnya sangat bersinar dan penuh dengan kebahagiaan. Pipinya yang tirus dan rambut panjang warna coklatnya membuatnya begitu istimewa. Dua matanya yang besar dan juga hidungnya yang mancung menambah nilai plus untuk kesempurnaannya. Gadis itu memang gadis sempurna.
Tapi kenapa sekarang gadis sempurna itu duduk bersamaku di sini?
“Kyuhyun?”suara merdunya menyadarkanku.
“Aku pesan es krim vanilla dan steak matang, lalu kau?”aku menatapnya.
“Aku sama dengannya, steaknya yang medium saja”tangan mungilnya menutup buku menunya dan menatapku.
Aku memalingkan wajahku dan menatap sekeliling, aku sedang  berusaha menyembunyikan rasa tidak percaya bisa makan bersamanya, bahkan kencan. Sebelumnya tidak ada keberanian dan kepercayaan diri mendekati sosok populer sepertinya.
“Bagaimana aku harus memanggilmu? Oppa? Sunbae? Chagi? Baby?”Zia menatapku dengan serius.
“Kenapa kau menanyakannya?”tanyaku merasa malu pada diriku sendiri.
“Bukankah kita sedang berkencan? Bukankah hal seperti itu yang biasa dilakukan pasangan? Memanggil seseorang yang mereka kencani dengan sesuatu yang romantic?”Gadis itu tertawa saat melihat kebingunganku.
“Terserah kau saja”akhirnya aku menyerah.
“Jangan bilang ini kencan pertamamu..”Zia tak bisa menahan tawanya.
Aku melihatnya tertawa dengan bahagia, sangat menawan. Suasana sepi pinggiran kota membuat tawanya lebih terlihat manis dan anggun. Aku sangat meyukainya, tawanya yang seperti itu bisa menenangkan hatiku.
“Kau manis..”ucapku tanpa sadar.
“Benarkah? One Kisseu..will you?”
Aku mengatupkan bibirku erat-erat. Lebih dari yang ku duga, ia lebih agresif dari bayanganku selama ini. Kenapa denganku ia selalu bertingkah tak terduga seperti itu?
“Ahh..”suara kikukku keluar dengan berat melalui kerongkonganku.
“Ha.ha.. I am just Kidding, sorry”tawa Zia semakin keras.
Ia berhasil mempermainkanku.
*
Zia Kim
Zia.. namaku, entah nama ke berapa yang aku miliki. Aku sudah berada di tubuh ini selama ratusan tahun. Tidak bertambah tua, tidak bisa mati dan akan segera sembuh dari luka separah apapun. Aku akan terus hidup seperti itu karena aku adalah mahluk abadi yang tak bisa mati.
“Kau tidak suka?”tanyanya saat aku berhenti memotong steak di atas piringku.
“Ah..tidak. aku hanya bingung denganmu, bagaimana kau bisa bertahan tanpa sekalipun kencan?”aku kembali memotong bagiannya menjadi lebih kecil dan melihat darah yang masih segar mengalir di sana.
“Aku..aku hanya menyukai satu perempuan tiga tahun ini, tapi aku tidak yakin apakah orang itu juga menyukaiku”Kyuhyun menyisihkan kacang polongnya disisi piring.
“Siapa?”tanyaku penasaran.
Aku kembali focus pada darah itu, sekali lagi aku tergoda dengan darah yang sangat aku benci. Aku sangat benci saat setiap sel dalam tubuhku selalu menunjukkan perbedaanku dengan manusia. Aku membencinya, tapi aku tak bisa hidup tanpanya.
“Kau”ucap Kyuhyun.
Aku tertegun saat laki-laki itu mengakui perasaannya padaku. Cho Kyuhyun, harusnya kau tak pernah jatuh cinta padaku..aku bukan manusia normal yang bisa kau sukai begitu mudah. Aku hanya seorang monster yang bahkan bisa membunuhmu dengan sekali gerakan.
“Aku..tidak bisa melanjutkan kencan ini”ucapku segera bangkit dari sana dan meninggalkan Kyuhyun termanggu di meja dengan pisau dan garpu yang masih berada di genggamannya.
Kyuhyun hanya menatapku tanpa melakukan apa-apa. Ia masih terduduk tanpa suara dengan wajah kaget dan bingungnya. Kali ini aku harus lebih waspada lagi dengan semua ini, orang itu tidak boleh jatuh cinta padaku.
“Aku tidak bisa membiarkan manusia jatuh cinta padaku dan akhirnya mereka harus pergi meninggalkanku sendiri karena takdir”
*
Author
Siwon menatap Kyuhyun cemas. Laki-laki itu hanya mengaduk makanan di dalam mangkuknya sejak tadi. Segelas jus yang biasanya tandas dengan sekali teguk masih utuh tanpa tersentuh. Kyuhyun benar-benar sedang kacau, ia bertingkah seperti orang yang gagal dalam kencan pertamanya.
“Kau? Kenapa kau murung di pagi yang cerah seperti ini?”Siwon memulai percakapan.
“Aku mengatakannya”sahut Kyuhyun lemah.
“Jadi kau mengatakannya?”Siwon hampir saja tersedak.
Kyuhyun kembali mengaduk makanan itu lagi, kedua matanya hanya mengikuti arah sendok yang berputar tanpa semangat. Siwon menyandarkan punggungnya pada kursi dan meletakkan sendoknya di samping piring, sekarang ia tau apa penyebabnya, Kyuhyun sedang patah hati.
“Zia..gadis itu memang tak semudah itu di dapatkan!”serunya membuat Kyuhyun menatapnya.
“Aku sudah ditolak olehnya”sambungya lemah.
“Kau ini mahluk bodoh! Bagaimana bisa kau menyerah seperti ini, sadarlah Cho Kyuhyun! Kau bisa mendapatkan Zia!” ucap Siwon menggebu.
Kyuhyun menatap Siwon, hatinya setuju dengan apa yang Siwo katakan. Penolakan di awal bukannya sudah biasa terjadi? Apa ia akan mudah menyerah seperti itu? Apa bisa laki-laki seperti dirinya patah hati seperti itu?
Kyuhyun bangkit dari kursinya dengan senyum.
“Aku akan terus menyukainya apapun yang terjadi”Kyuhyun membanting sendoknya ke meja.
Siwon lalu tersenyum karena berhasil membuat sepupunya bangkit.
*
To Be Continued…
Please Read, Coment And Like ne.. ^^
Next Or No?
Unlovable by Lily Park




Jumat, 01 April 2016

Cerpen: Just Be Friends


Just Be Friends
oleh Lily Park
Andre mulai menengok ke arah Caca sambil memberikan kode-kode lewat jarinya. Jam Sembilan lebih lima saat soal matematika itu sampai ke nomor lima belas. Cuaca pagi yang menggila dan panas membuat konsentrasinya menguap ke udara. Untuk menghibur diri mereka melakukan hal konyol.
“11 sampai 15?” Andre mengulangnya. Masih dengan suara lemah.
“E..E..E..E..A,” Caca menunjukkan jarinya sekaligus menggerakkan bibirnya tanpa suara.
“Itu?” Andre terkikik.
“Lagunya CJr.. hehe,” Caca menyahut dengan pelan.
“Jawabannya.. benar nggak?” Andre mengkode Caca lagi.
“Yakin.. nggak tahunya,” Caca berkomentar.
“Ca!” suara lirih Andre penuh penekanan.
“What do you mean.. oh,” Caca mulai bernyanyi.
“JB,” Andre ganti menyahut.
“Benar!” Caca menunjukkan jempolnya.
Andre tersenyum puas, Caca kembali fokus pada lembar jawabannya. Tingkah aneh mereka tak terperhatikan. Posisi duduk di pojokan kanan dua kursi sejajar paling belakang membuat mereka luput dari perhatian manusia yang ada di ruangan tersebut, tapi tidak untuk satu orang.
Andre dan Caca sudah lama mengenal. Mereka seperti pacaran, saking klopnya mengalahkan Aliando syarif dan Prily latuconsina. Caca dengan sifatnya yang mudah bergaul dan Andre yang punya sifat jenaka membuat mereka sangat cocok. Padahal mereka cuma teman. “Misi selesai,” ucap Andre lagi saat Caca menoleh padanya lagi.
“Sip!” Caca tersenyum.
“Akhirnya! Banyak banget nulisnya,” Andre bernapas lega.
Caca menatap Andre yang menghembuskan napasnya dengan paksa. Andre menoleh dan menyipit ke arahnya juga saat itu, dua pasang mata itu bertemu tidak sengaja. Untuk sekejap Caca terdiam dan membisu mengunci mulutnya.
“Apa sih?” Andre menginterogasi.
“Nggak! Nggak ada!” Caca dengan beringsut berjalan meninggalkan Andre.
“Caca! Kamu apaan sih!” Andre mengejarnya keluar.
Ada dua mata yang mengamati mereka dari jauh. Masih memperhatikan mereka tanpa terlihat. Dia bagaikan sosok rahasia yang tak pernah ingin muncul. Masih ingin menjadi surprise yang tidak ingin diketahui.
“Caca,” suara itu bergetar.
Jam dua belas tepat saat guru bahasa masuk ke kelas mereka. Caca dan Andre masih sibuk dengan makan siang mereka saat guru itu duduk di meja guru. Dengan sekali ketukan meja semua perhatian di kelas itu tertuju ke satu titik. Tentu saja ke arah meja guru.
“Untuk kali ini, kalian akan melakukan tugas berpasangan,” suara guru itu mengalun.
“Tugasnya apa Bu?” tanya seorang gadis berbadan tambun yang duduk tepat di depan meja guru.
“Puisi berpasangan,” terang guru itu. Andre mengkode Caca, gadis itu mengangguk setuju. Andre menghela napasnya dengan lega karena Caca akan jadi pasangan yang bisa diandalkan olehnya nanti. Di luar kelegaan Andre suasana kelas jadi sedikit riuh dengan tugas itu. Akhirnya guru itu mengetuk meja sekali lagi.
“Pasangan kalian Ibu yang tentukan!” ucapnya kemudian. Andre dan seluruh isi kelas kecewa.
“Yah! Ibu!” keluh semua manusia itu.
“Caroline dan Vinandra.. Andreas dan Emilia,” suara guru itu mulai menyebut nama muridnya satu per satu.
Caca menatap Andre kecewa, Andre juga melakukan hal yang sama. Lalu kepala mereka tersandar ke meja dengan lemas. Namun suara guru itu kembali mengarahkan para muridnya untuk duduk berdampingan dengan pasangan masing-masing, membuat mereka terpaksa bergerak. Itu adalah dua jam terpanjang dalam satu hari bagi mereka.
“Ca.. kamu bisa kan?” tanya Vin setelah Caca duduk di sebelahnya.
“Nggak terlalu sulit,” jawab Caca lalu mulai menggoreskan pensilnya.
Di sisi lain Andre sedang berdamai dengan hatinya. Dia mencoba untuk berkonsentrasi dengan apa yang sedang dilakukannya. Mili yang sedari tadi menyadari kegundahan Andre hanya bisa menghela napasnya panjang.
“Cuma dua jam aja, Ndre. Kamu harus konsen,” ucap Mili kemudian.
“Iya konsen. Lagian cuma teman.. nggak ada hak buat nggak suka,” Andre menarik buku tulisnya mendekat sambil menggumam tak jelas.
“Aku suka kamu,” suara Andre tertahan.
“Wahaha..,” Caca terbahak.
“Kok ketawa?” Andre menatap Caca bingung.
Kertas warna pink itu membuatnya bergidik. Baru kali ini seorang Andre menemukan kertas yang jelas-jelas ditujukan padanya. Untuk seorang Andreas yang tak pernah diperhatikan sekarang jadi seorang yang diperhatikan seseorang. Setelah membacanya dia merasa aneh.
“Andre punya penggemar rahasia nih,” ledek Caca kemudian.
“Kok bisa?” tanya Andre.
“Andre.. seorang cowok itu wajar ada yang naksir. Jadi jangan kaget ya,” Caca menepuk pundaknya sebentar lalu pergi. Andre mengekori Caca sampai ke dalam kelas. Caca langsung menuju ke bangkunya begitu juga dengan Andre. Tangan keduanya sibuk mengeluarkan baju olah raga untuk menyambut jam pertama, Ya.. jadwalnya penjaskes.
“Ca.. ini bener kan?” tanya Vin menghampiri Caca.
“Ya.. itu bener kok. Kapan diprint?” tanya Caca.
“Nanti sepulang sekolah,” jawab Vin.
“Oke,” Caca tersenyum ke arah Vin. Vin membalasnya.
Andre menatap Vin dengan sinis. Terlihat ekpresi tak biasa yang amat sangat terlihat, seperti cemburu. Tiba-tiba Mili menghampiri meja Andre dan memberikan sebuah kertas padanya. Andre terkejut dan hampir menjatuhkan tasnya ke lantai, Mili menangkap tas itu.
“Ndre? Masih pagi udah nggak baik nih?” selidik Mili.
“Mendadak panas,” Mili kaget dengan tanggapan Andre.
“Katanya cuma teman?” Mili menyindir.
“Iya.. Cuma teman.. tapi itu dulu,” sahut Andre.
Caca mendadak pusing mendengar ocehan Andre yang tiba-tiba berlebihan soal Vin. Mulut Andre yang sedari tadi tidak bisa berhenti mengungkap setiap detil tentang Vin membuatnya bosan. Caca menggebrak meja dengan keras, Itu akhirnya yang membuat Andre berhenti bicara.
“Kamu kenapa sih?” Caca melontarkan pertanyaannya dengan ketus.
“Enggak.. aku nggak suka aja kamu dekat-dekat sama Vin,” Andre tertunduk.
“Kamu siapa berhak melarangku dekat sama siapa aja?” suara Caca kesal.
“Aku,” suara Andre tertahan kebingungan menjelaskan.
“Kamu cuma temanku, Ndre!” Caca dengan beringsut pergi meninggalkan kantin.
“Iya aku memang temanmu, Ca. Makanya aku ingetin kamu,” Andre mengikuti kepergian Caca dengan matanya.
“Kami itu cuma ngerjain tugas. Makanya kami lebih dekat!” teriak Caca dari kejauhan.
Andre terpaku menatap Caca yang menghilang di balik koridor. Sekejap dia menyadari apa yang salah dengan dirinya, terlalu berlebihan. Dia tak bisa menyalahkan siapa pun atas semua salahnya sendiri, terlalu gegabah dengan membuat Caca marah. “Ca.. aku nggak bermaksud,” ucap Andre lemah.
Semenjak hari itu Caca diam. Dia tidak pernah menyapa Andre, dia menjauhinya. Setiap melihat ataupun bertemu dengan Andre Caca terkesan cuek. Saat berhadapan dengan Andre dia juga mengacuhkannya. Caca diam.
“Vin..di luar aja yuk,” Caca menarik tangan Vin dengan paksa.
“Kita jadi bahas ini lagi?” Mili menepuk pundak Andre yang menatap kepergian Caca.
“Iya.. kita bahas lagi,” mulutnya menjawab Mili tapi matanya masih fokus ke arah Caca.
“Ndre.. kamu sadar nggak sih ada yang perhatian sama kamu?” tanya Mili tiba-tiba. Andre menoleh.
“Aku sadar.. tiap hari ada yang ngasih sesuatu dan surat aneh yang nggak tahu dari mana,” jelas Andre.
“Udah dicari tahu?” tanya Mili lagi. Andre menggeleng.
“Kenapa nggak?” Mili penasaran.
“Karena aku menganggapnya cuma teman,” sahut Andre.
“Teman?” suara Mili kecewa. Sejenak Mili terdiam, Andre menatapnya bingung. Dalam benaknya ada berbagai macam spekulasi yang berputar-putar. Andre membuka mulutnya perlahan-lahan, sepertinya ingin meralatnya. Dan benar saja, dia mulai bicara.
“Karena aku hanya melihat suratnya, belum ketemu orangnya,” Jelas Andre.
“Kamu udah ketemu orangnya, Ndre,” terang Mili.
“Beneran? Siapa? Apa aku kenal?” Andre tampak antusias.
“Orang itu.. Aku,” wajah Mili menunduk dalam.
“Mili.. aku.. nggak bisa nerima perasaan kamu,”
“Kamu harus jujur sama Andre, Ca,” Vin mengaduk es degannya lagi.
“Aku nggak bisa jujur sama dia Vin. Mili suka sama dia,” Vin menoleh pada Caca bingung.
“Hah? Kamu tahu dari mana?” tanyanya tak percaya.
“Kemarin pas pulang sekolah.. Mili cerita semuanya.. semuanya ke aku,” Caca menghembuskan napasnya berat.
Vin menatap Caca sebentar, lalu mengambil tahu isi di depannya. Caca yang tidak tahu maksud dari Vin hanya memperhatikannya dengan penuh tanda tanya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Vin dengan dua buah tahu isi di tangannya. “Kamu lihat tahu isi ini.. kalau kamu nggak buka tahunya apa kamu tahu isinya?” Caca menggeleng.
“Apa hubungannya sama tahu isi?” Caca bingung.
“Caca! Ini perumpamaan!” Vin jengkel. Caca mengangguk.
“Teruskan,” pintanya.
“Kamu harus buka tahu isi ini baru melihat isinya,” Vin membuka tahu isi itu dan menemukan tauge beserta bihun di dalamnya. Caca berpikir sejenak lalu mulai mengangguk.
“Maksud kamu aku harus cari tahu dulu perasaan Andre ke aku?” Vin mengangguk.
“Nah! Itu tahu!” Caca tersenyum.
“Makasih Vin!” Vin membalas senyuman Caca.
“Sama-sama,”
Hari berikutnya Andre berdiri di depan pintu gerbang rumah Caca. Andre masih memikirkan kata-kata Mili kemarin, beberapa kata yang masih terngiang di dalam kepalanya. Kata-kata yang sedikit mengganggunya.
“Ndre?” Caca membuka pintu dan kaget saat menemukan Andre.
“Ca,” tiba-tiba Andre tak bisa bicara.
“Kamu ngapain di sini?” tanyanya bingung.
“Anu.. Ca..Anu,” jawab Andre tak jelas.
“Jemput aku?” tebak Caca.
“Iya,” Andre mengangguk.
Suasana berubah canggung sebentar. Caca masih terdiam di depan gerbang dan Andre di samping motornya. Di antara mereka tidak ada yang mengeluarkan kata-kata. Jadi sedikit aneh jika sebenarnya Andre orang yang jenaka.
“Maaf Ca.. waktu itu aku nggak bermaksud,” Andre membuka suara.
“Aku maafin,” Caca langsung menyambungnya.
“Dan.. buat itu.. aku nggak bisa mengangap kamu cuma teman,” Caca mengerutkan keningnya.
“Apa?” tanyanya bingung.
“Mili..dia yang jadi penggemar rahasiaku selama ini. Dia udah bilang semuanya ke aku. Tapi aku nggak bisa nerima perasaan dia. Karena dia aku anggap cuma teman,” jelas Andre. “Jadi?” Caca menatap Andre bingung.
“Meskipun aku nggak bisa nerima dia. Seenggaknya dia minta aku jujur ke kamu.. kalau aku nggak bisa mengganggap kamu cuma teman,” lanjutnya.
“Em.. terus?” selidik Caca.
“Kamu lebih dari teman buat aku,” ucap Andre.
“Katanya cuma teman?” Caca ketawa.
“Dulu iya. Tapi sekarang rasanya.. enggak,” Andre salah tingkah.
“Wah.. ini sih lebih gawat,” Caca nyengir.
“Kok bisa?” Andre mengerutkan keningnya.
“Pasti tambah over protective,” Caca tertawa lebar.
“Iya sih hehe,” Andre menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
The End

Kamis, 17 Maret 2016

Cerpen: Love in Apple

Love in Apple


Dua buah apel yang ada di atas meja baru saja terbang ke dalam tas sekolahku. Lima buku yang tersampul rapi dan beberapa peralatan sekolah menjadi penghuni tas yang masih berlabel itu. Bau kertas baru yang memenuhi indera penciumanku membuatku gembira. Sadar ini sudah waktunya untuk berangkat. Semua sudah siap. Juli tanggal muda. Sekolah baru saja memasuki musim tahun ajaran baru. Dan sekarang aku baru saja resmi menjadi salah satu murid SMA. Selamat tinggal biru putih dan selamat datang putih abu-abu. Sekarang kalian akan jadi milikku.
“Yang bener dong pake sepatunya Li,” suara serak bergema di telingaku.
“Udah bener nih Kak!” jawabku dengan lantang.
“Bener apaan. Yang satu itu sepatu siapa?” teriaknya.
Aku menatap sepatu yang sedang ku pakai. Sekarang terlihat jelas jika sepatu kananku ganjil. Benar juga apa yang dikatakan kakakku. Aku salah pakai sepatu. Dan sekarang tatapan sinis tertangkap kedua mataku. Menyebarkan rasa ngeri di udara. Aku melepaskan sepatunya. Tiba-tiba cowok jangkung itu berdiri di depanku. Sekarang aku bagaikan seekor semut yang tertelan oleh tingginya pohon. Sumpah deh. Kenapa kakak tinggi banget ya? Gender masa? Turunan dari ayah? Tapi kok aku tetep aja bontot sih?
“Nanti pas MOS jangan aneh-aneh ya Li. Kakaknya galak-galak soalnya,” sebuah nasihat meluncur.
“MOS-nya masih lima hari lagi kali Kak. Masih lama,” jawabku sekenanya.
“Cuma ngingetin,” sahutnya lalu melangkah melewati pintu.
Sepasang kaki ini melangkah menuju perpustakaan. Arah yang paling sepi saat jam istirahat. Semua perhatian dan kerumunan pastinya berpusat ke arah kantin besar yang ada di bagian selatan. Earphone yang menghiasi telingaku mendengungkan lagu-lagu yang ku suka. Dan aku sangat menikmatinya. Rasanya seperti banyak energi baru yang masuk mengisi jiwa lelahku. Tanpa sadar aku memejamkan mataku dan berjalan pelan. Menyusuri lorong itu.
Langkah kelimaku sesosok tubuh menghalangi jalanku. Aku pun membuka mataku. Dua mata cokelat menatapku tajam. Mengisyaratkan tatapan tidak suka. Rambutku yang tergerai bebas tertiup sepoi angin. Suasana membeku sejenak. Aku tidak mampu bergeming dari tempatku semula. Warna nama yang terjahit dengan rapi sudah berbeda dari yang melekat di bajuku. Warna kuning menyala yang membuatku sedikit kaget. Suara musik masih terputar di telingaku. Tapi tidak ada yang aku dengar sama sekali. Rasanya hanya kosong.
“Maaf Kak,” kataku berusaha berlalu. Bukannya meninggalkan aku yang mematung. Kakak kelas dua itu hanya diam tanpa kata. Cowok itu hanya tetap menatapku aneh. Rasanya seperti ada ribuan tusukan jarum yang menyerangku langsung mengarah ke mataku. Ku ambil inisiatif langkah pertama menghindarinya. Namun bukannya berlalu dia justru menghadangku. Rasanya aku sudah di ujung tanduk sekarang. Dia semakin menekanku dengan tatapan kurang bersahabat itu. Membuatku mati kutu di depannya. “Permisi Kak,” ucapku sekali lagi.
Aku mundur satu langkah. Cowok itu tiba-tiba maju satu langkah tepat di depanku. Tangannya terangkat tepat di samping tubuhnya. Lalu dengan tiba-tiba melepas earphone di telingaku dengan sedikit paksaan. Aku terkesima. Dia sepertinya sangat marah padaku. “Kalau jalan itu pasang mata. Pasang telinga,” ungkapnya. Tubuh jangkung berbalut kulit kuning langsat itu menghilang di persimpangan area kelas dua. Mataku hanya mengikutinya sampai menghilang. Entahlah sejak kapan aku hanya terbengong bodoh menatap punggungnya. Rasanya serentetan sihir baru saja melewatiku. “Sean? Temennya Kak Elyo!” ucapku lirih.
Apel bertengger manis di atas meja. Apel merah buah kesukaanku. Entah siapa yang meletakkannya. Di bawahnya ada sebuah note kecil. Tulisan rapi yang merangkai beberapa kata-kata manis. Ya begitulah kelihatannya. Tertulis dengan manis. “Cie.. dari siapa Li?” tanya Riza padaku.
“Nggak tahu,” dengan cepat aku bergeleng. Tidak ada satu orang pun yang terlintas di benakku. Nggak tahu harus mikirin siapa. Siapa yang bakalan aku tuduh buat kejadian ini. Melihat hal ganjil di sana. Yang sebenarnya juga bisa dilihat orang bodoh sekali pun. Aku mulai sadar akan sesuatu.
“R? Siapa R?” gumamku.
“R?” tanya Elma.
“Iya, coba deh lihat ini. Banyak kata R-nya yang ada dalam kotak,” terangku.
“Aduh.. jangan bilang Rengga,” tebaknya.
“Siapa Rengga, El?” tanyaku.
“Rengga anak kelas sebelah si kutu buku itu. Dia suka makan apel sama kayak kamu juga,” ungkapnya.
“Hah?” mulutku terbuka. Rengga yang suka makan apel? Rengga suka baca buku? Rengga yang pakai kacamata minus tebal itu? Rengga yang tinggi banget itu? Rengga yang… Rengga? Masa sih? Mana mungkin? Masa iya? “Nggak mungkin deh!” lanjutku dengan cepat.
“Semoga aja bukan. Bukan dia,” sambungnya.
MOS hari pertama sudah berakhir. Kiriman-kiriman apel datang setiap pagi. Di jam yang sama dan selalu tepat waktu. Tapi sayangnya aku nggak pernah tahu siapa pengirimnya. Apel yang rasanya asem-asem manis itu seperti buah racun. Meracuniku untuk bertanya. Siapa sih yang ngirim? Handphone-ku bergetar dengan hebatnya. Satu SMS kosong diterima. SMS dengan nomor asing tak bernama yang menyambangi kotak masuk. Bukan hanya satu. Tapi di susul SMS dari nomor yang sama tanpa tulisan yang berarti. Lebih dari dua puluh. Rasa jengkel menyambangiku. Siapa sih yang iseng ini! Akhirnya ku tekan call untuk nomor itu. Aku sangat penasaran siapa pelaku di balik semua hal ini. Satu kali, hubungan telepon itu tidak tersambung. Dua kali, sambungan telepon terputus. Ketiga kali.. dan akhirnya yang ke sepuluh tersambung dan diangkat juga. Suara serak menyambut di ujung sana.
“Halo?” sapaku.
“Halo,” suara cowok menjawab.
“Siapa ini ya?” tanyaku.
“Lah.. bukannya situ yang nelepon ya?” tanyanya padaku.
“Loh.. bukannya Mas yang ngirimin lebih dari sepuluh SMS kosong ya?” ucapku.
“Nggak kok. Ini aja baru mandi!” jawabnya.
Tut..tut.. tut.. Sambungan terputus. Pulsaku habis. Benar-benar sial. Orang ini nyebelin banget. Jelas-jelas ini dari nomor yang sama. Kok pake nggak ngaku segala sih! Bikin sensi aja!
Hari terakhir penutupan MOS. Akhirnya hari ini selesai juga. Rasanya sebentar lagi upik abu ini akan bebas. Duh.. senangnya. Akhirnya akan jadi siswa yang beneran. Nggak ada peraturan kakak kelas. Nggak ada ruwet dan ribet lagi. Akhirnya semua selesai. Tapi nanti jarang ketemu kakak itu lagi!
“Nah.. berhubung semua udah selesai. Kadonya dikasih ke kakak OSIS ya,” ucap seorang OSIS.
“Kak, boleh kasih ke kakak yang kita suka kan?” celetuk Figo.
“Terserah aja. Pokonya kadonya nggak boleh di bawa pulang sendiri,” jawabnya lagi. Akhirnya kadoku berakhir di tangan seorang OSIS. Aku tidak peduli akan bersama siapa kado itu nanti. Yang aku pikirkan sekarang adalah aku bebas. Sekarang waktunya untuk istirahat raga dari aktivitas tiga hari yang melelahkan. Yang kadang bikin stres itu.
Gubrakk!!
Tiba-tiba pintu terbanting dengan kerasnya. Semua penghuni kelas terkejut. Ada Penegak Disiplin! Aku ditarik salah satu dari mereka untuk maju. Wajahku berubah. Tanganku mendingin. Aku sedikit bingung dan panik. Apa yang ku lakukan? Apa salahku? “Kamu tahu nggak salah kamu?” tanyanya.
“Nggak Kak. Apa salah saya Kak?” jawabku.
Seorang cowok masuk tanpa permisi langsung menghadapku. Kemudian menatapku. Kakak yang kemaren itu. SEAN. Kakak yang itu. RASEAN!! Nama itu? R? Sean? RASEAN!!
“Elyo. Kok Adik nggak dikasih tahu sih?” panggilnya pada seorang cowok.
“Sengaja Se, biar kaget gitu,” terangnya.
“Aduh.. dasar Kakak durhaka ya. Lihat tuh, dia takut banget tahu,” jari telunjuknya menunjukku.
“Kasih apel aja biar tenang,” sarannya.
“Bener juga. Ken, ambilin apel!” teriaknya.
Ternyata kakak yang biasanya aku isengin itu balas dendam. Awas ya Elyo! Tamat nanti di rumah! Aku akan membuatmu membayar semua ini. Tunggu pembalasanku. Tunggu aja nanti! Bakalan lebih!
“Aliya, ini buat kamu adek manis. Tanda sayang kakak ke kamu,” tangannya menyerahkan apel padaku.
Aku termenenung. Aku berdiri mematung bingung. Sebenarnya tujuannya apa sih? maluin aku? Atau gimana? Iya sih aku suka sama dia. Tapi kok?
“Terima dong,” perintahnya.
“Jawab! Jawab! Jawab!” teriakan menggila di dalam kelas.
“Me too!” jawabku tanpa pikir panjang.
“Apa?” tanyanya.
“Au ah!” teriakku lagi.
Tawa pun pecah di dalam kelas. Riuh tepuk tangan membanjiri kami. Kejadian konyol ini membuatku ingin terbahak. Ya itulah.. konyol bin ngeselin!!! (Li)

Jumat, 29 Januari 2016

GOOD FATHER (Sequel from Love Mode and Ice Prince)

 

Good Father (Sequel bonus from Love Mode)

Author: Lily Park
Akun : Twitter: @magnolia2498
           Fb: Nurillaiyah (LY)
Rate: pg 15
Length: Part(?)
Genre: Life drama, love, family
Cast: Cho Kyuhyun
           Shin Eun Ji
Summary: Kyuhyun akan jadi ayah yang baik untuk anak-anakku..
Author
Kyuhyun duduk di antara rerumputan taman yang hijau. Matanya meneliti langit yang biru dengan sedikit awal putih yang menghiasinya. Matahari yang cerah membuat sinarnya sangat indah. Di bawah rindangnya pohon terasa teduh saat suasana panas melanda.
“Oppa!”seruan perempuan membuat Kyuhyun menoleh.
“Apa?”suara serak Kyuhyun menjawab.
Perempuan itu datang tergopoh dengan kaki yang sedikit di seret kearah Kyuhyun. Wajahnya terlihat lelah sekali. Entah apa yang baru saja di kerjakannya di sana. Wajah payahnya berbanding terbalik dengan Kyuhyun yang terlihat sangat santai.
“Apa aku menikahimu hanya untuk membiarkanmu bersantai?”rengek perempuan itu.
“Kenapa? Kau menyesal menikahiku?”Kyuhyun mengernyit.
“Tentu saja tidak. Tapi bisakah kau sedikit punya perasaan?”Kyuhyun mendelik.
“Apa maksudmu aku tidak punya perasan?”Perempuan itu tertawa.
“Menurutmu?”alis perempuan itu terangkat.
“Yak! Bisakah kau tidak mengungkit itu lagi Eun Ji?”Kyuhyun membanting bukunya ke rumput.
Eun Ji tertawa dengan kerasnya. Kyuhyun menatapnya dengan kesal. Beginilah kehidupan setelah pernikahan mereka berlangsung. Lamaran yang romantic itu berakhir dengan pernikahan yang cukup aneh bagi keduanya. Sepertinya mereka memang di takdirkan menjadi pasangan yang aneh.
“Eomma!”suara anak kecil memanggil dari balik semak.
“Yak! Kyu!”teriak Eun Ji.
“Apa aku juga harus menjaga dia juga?”tunjuk Kyuhyun pada bocah perempuan kecil yang duduk santai dengan anjing pudel mereka.
“Kau yang membuat mereka ada..kau juga harus bertanggung jawab pada mereka”Eun Ji tersenyum.
“Ash..aku tidak akan membuat lagi”ucapnya sambil melangkah pergi.
Eun Ji menatap punggung Kyuhyun yang berjalan ke balik semak. Tidak lama kemudian ia muncul menggendong anak  laki-laki usia empat tahun yang berlapis lumpur. Benar-benar anak yang kotor. Kyuhyun bahkan mengangkatnya dengan kesal.
“Yak! Kau benar-benar kotor Eun Ho!”teriak Kyuhyun pada bocah laki-laki itu.
“Dia benar-benar anakmu”teriak Eun Ji kencang.
“Kau pikir dia bukan anakmu?”Kyuhyun mengeluh.
“Dia anakku..jadi kemarikan. Aku akan membersihkannya. Kau urus malaikat kecil kita”pandangan Eun Ji beralih pada bocah perempuan yang asyik sendiri itu.
“Ya.. aku akan menjaganya”ucap Kyuhyun kemudian.
“Aku akan segera kembali. Jaga baik-baik”perintah Eun Ji.
“Baiklah.. tapi..berikan aku satu hadiah..di sini”Kyuhyun menunjuk bibirnya.
“Tidak akan!”Eun Ji meninggalkan Kyuhyun sambil menggendong Eun Ho yang berlumuran lumpur.
“Ash..dia kejam sekali”guman Kyuhyun.
Kyuhyun mendekati bocah mungil itu sambil tersenyum. Namun bocah perempuan itu masih saja focus pada anjing yang ada di depannya. Ia bahkan tidak perduli jika ada Kyuhyun di sampingnya. Dia memang mewarisi sifat ibunya yang kadang-kadang kejam.
“Kau tidak ingin menatapku Jae In?”Kyuhyun mencupit kedua pipi bocah lucu itu.
Bocah itu mengalihkan matanya ke arah Kyuhyun. Dia kelihatan sangat marah. Matanya yang tidak terlalu besar menatap Kyuhyun intens. Persis seperti ibunya dia benar-benar tipe penjinak ulung. Kyuhyun hampir membeku melihatnya.
“Jangan seperti ibumu Jae In”Kyuhyun berusaha menaklukan bocah dua tahunan itu dengan segenap hatinya. Namun bocah itu malah menangis.
“Apa yang kau lakukan pada anakmu Kyuhyun!”suara beringas Eun Ji terdengar.
***
Kyuhyun
Menikah dengan Eun Ji adalah hal terindah yang pernah aku lakukan. Awalnya..kehidupan kami sangat normal. Namun dengan seiringnya waktu dan bertambahnya anak membuat hidupku tidak tenang. Aku harus bisa mengurus mereka juga..
“Kyuhyun! Aku mau apel”rengek Eun Ji.
“Ash.. ini bukan pertama kalinya. Kenapa kau selalu seperti ini?”tatapku frustasi.
“Apa tidak boleh?”tatapnya galak.
“Aku hanya bingung dengan sikapmu”jelasku.
“Sikapku adalah normal. Tidak heran jika aku harus bermanja-manja denganmu sebelum semuanya jadi lebih sibuk dari sekarang”aku tidak pernah berhasil mendebatnya.
“Berikan aku apel sekarang!”Eun Ji melempar bantalnya padaku.
“Ssst.. aku ambilkan!”teriakku sebelum bantal selanjutnya melayang.
Malam yang sunyi saat aku harus berjalan menuju dapur yang sudah gelap. Aku jarang melakukan hal ini. Ini adalah kali ketiganya dalam dua bulan terakhir. Dia jadi lebih sensitive terhadap segala sesuatu. Jadi lebih dari sebelumnya. Lebih..
Dia jadi lebih berlebihan. Dia jadi lebih.. karena hamil anak ketiga kami!
***
Eun Ji
Aku tidak memaksanya. Aku tidak pernah memaksanya melakukan segala sesuatu dengan benar. Aku hanya ingin dia merasakan bagaimana menjadi orang tua yang baik dan benar. Setidaknya mengetahui bagaimana caranya berinteraksi dan mengetahui tumbuh kembang anaknya sendiri.
“Kau mandikan Eun Ho”ku tarik tangan Kyuhyun dari balik selimut.
“Ya.. lima menit lagi”pintanya.
“Kyuhyun! Bangunlah”ku buka selimut yang menutupi kepalanya lalu mengecup bibirnya sekilas.
“Ya.. aku akan bangun”senyumnya mengembang.
Dia lebih dari yang ku duga. Dengan sedikit dorongan dia pasti akan jadi ayah yang lebih baik untuk semua malaikat kecil kami. Dia akan menjadi suami yang bisa di andalkan dan ayah yang sigap untuk membantuku membesarkan tiga anak ini dengan penuh cinta.
“Jangan menyiramnya langsung dengan shower. Dia akan mudah pilek. Pelan-pelan saja”ingatku.
“Satu kali lagi. Sarapan pagi..di sini”tunjuknya ke bibir.
“Buang pikiran kotormu itu..ss”ku dorong Kyuhyun menuju kamar Eun Ho.
Pintu kamar terbuka. Namun kami tidak menemukannya di atas tempat tidur. Dia pasti ingin bermain di pagi ini. Anak itu memang seperti ayahnya..agak menyebalkan. Dia pasti sedang mempermainkan kami berdua. Bersembunyi di suatu tempat agar tidak mandi.
“Eun Ho-ya”panggil Kyuhyun.
Aku mengamati seluruh ruangan itu. Memeriksa di balik kursi dan di balik gorden. Tapi mahluk kecil itu tidak ada di sana. Aku beralih ke balik pintu. Benar saja Eun Ho bersembunyi di balik pintu dan menyelimuti dirinya. Anak yang cerdas dengan menggunakan selimutya untuk menyamarkan diri.
“Eomma menemukanmu”ku dekap tubuh mungilnya dengan erat. Tawa kecilnya terdengar.
“Eomma..aku tidak mau mandi”ucapnya sedikit tidak jelas.
“Kenapa?”tanyaku.
“Appa menyiramku dengan shower”jelasnya.
“Yak! Jangan lakukan itu Kyuhyun!”teriakku kesal pada Kyuhyun. Kyuhyun meringis.
“Eomma..”Jae In juga bangun.
Ini pagi yang panjang dengan mereka semua!
***
Author
Mereka sudah sibuk dengan kedua balita itu. Eun Ho yang baru mandi terus merengek pada ibunya sedangkan Jae In tidak ingin lepas dari ibunya. Kyuhyun yang terus menenangkan Eun Ho tidak mampu berbuat banyak selain terus berusaha membujuknya agar mau memakai baju untuk menutupi tubuhnya.
“Eomma..”rengek Eun Ho.
“Eun Ho-ya. Pakai bajumu”bujuk Kyuhyun
“Eomma”panggil Jae In.
“Oppa..pakaikan ini untuknya”Eun Ji terus sibuk memecah konsentrasinya pada dua balita itu.
“Eomma..”suara Eun Ho makin jelas.
“Pakai bajumu dulu. Eomma akan datang setelah kau berpakaian”Kyuhyun berhasil memakaikan baju ke tubuh Eun Ho.
Kyuhyun menggendong Eun Ho keluar dari kamar. Eun Ji pun melakukan hal yang sama setelah merapikan rambut Jae In yang sedikit basah. Dua balita itu memang sangat merepotkan di pagi hari. Mereka berhasil membuat dua orang dewasa itu kebingungan.
“Kita harus mencari pengasuh untuk mereka”ucap Kyuhyun menuruni tangga.
“Aku tidak akan menyerahkan mereka pada siapapun”balas Eun Ji.
“Kita tidak hanya punya dua. Kita akan punya tiga”ingat Kyuhyun.
“Aku tau.. tapi aku tidak bisa mempercayakan anakku pada orang lain”Eun Ji meletakkan Jae In di kursinya.
“Aku tidak ingin kau sibuk”Kyuhyun juga meletakkan Eun Ho di kursinya.
“Baiklah..kita akan mencarikan pengasuh untuk mereka”Eun Ji akhirnya luluh. Tangannya membagikan roti selai ke piringnya dan Kyuhyun.
“Gomawo”Kyuhyun mengecup kepala Eun Ji singkat.
“Aku ingin kau sering meluangkan waktumu untuk mereka”Eun Ji menyuapkan bubur ke dalam mulut Jae In.
“Ne.. tapi apa aku tidak bisa mendapat tambahan sarapan?”Kyuhyun mengerling.
“Tidak! Jangan di depan mereka”Eun Ji mendelik.
“Eun Ji-ya!”rengek Kyuhyun.
“Habiskan makananmu Eun Ho. Jangan bersisa”Eun Ji menatap Eun Ho yang mulai bisa menyuap makannya sendiri.
“YAK! Eun Ji!”Kyuhyun mulai kesal. Tapi tetap di acuhkan.
***  
Next or no?
#LilyPark