Andre mulai menengok ke arah Caca sambil memberikan kode-kode lewat jarinya. Jam Sembilan lebih lima saat soal matematika itu sampai ke nomor lima belas. Cuaca pagi yang menggila dan panas membuat konsentrasinya menguap ke udara. Untuk menghibur diri mereka melakukan hal konyol.
“11 sampai 15?” Andre mengulangnya. Masih dengan suara lemah.
“E..E..E..E..A,” Caca menunjukkan jarinya sekaligus menggerakkan bibirnya tanpa suara.
“Itu?” Andre terkikik.
“Lagunya CJr.. hehe,” Caca menyahut dengan pelan.
“11 sampai 15?” Andre mengulangnya. Masih dengan suara lemah.
“E..E..E..E..A,” Caca menunjukkan jarinya sekaligus menggerakkan bibirnya tanpa suara.
“Itu?” Andre terkikik.
“Lagunya CJr.. hehe,” Caca menyahut dengan pelan.
“Jawabannya.. benar nggak?” Andre mengkode Caca lagi.
“Yakin.. nggak tahunya,” Caca berkomentar.
“Ca!” suara lirih Andre penuh penekanan.
“What do you mean.. oh,” Caca mulai bernyanyi.
“JB,” Andre ganti menyahut.
“Benar!” Caca menunjukkan jempolnya.
Andre tersenyum puas, Caca kembali fokus pada lembar jawabannya. Tingkah aneh mereka tak terperhatikan. Posisi duduk di pojokan kanan dua kursi sejajar paling belakang membuat mereka luput dari perhatian manusia yang ada di ruangan tersebut, tapi tidak untuk satu orang.
“Yakin.. nggak tahunya,” Caca berkomentar.
“Ca!” suara lirih Andre penuh penekanan.
“What do you mean.. oh,” Caca mulai bernyanyi.
“JB,” Andre ganti menyahut.
“Benar!” Caca menunjukkan jempolnya.
Andre tersenyum puas, Caca kembali fokus pada lembar jawabannya. Tingkah aneh mereka tak terperhatikan. Posisi duduk di pojokan kanan dua kursi sejajar paling belakang membuat mereka luput dari perhatian manusia yang ada di ruangan tersebut, tapi tidak untuk satu orang.
—
Andre dan Caca sudah lama mengenal. Mereka seperti pacaran, saking klopnya mengalahkan Aliando syarif dan Prily latuconsina. Caca dengan sifatnya yang mudah bergaul dan Andre yang punya sifat jenaka membuat mereka sangat cocok. Padahal mereka cuma teman. “Misi selesai,” ucap Andre lagi saat Caca menoleh padanya lagi.
“Sip!” Caca tersenyum.
“Akhirnya! Banyak banget nulisnya,” Andre bernapas lega.
“Sip!” Caca tersenyum.
“Akhirnya! Banyak banget nulisnya,” Andre bernapas lega.
Caca menatap Andre yang menghembuskan napasnya dengan paksa. Andre menoleh dan menyipit ke arahnya juga saat itu, dua pasang mata itu bertemu tidak sengaja. Untuk sekejap Caca terdiam dan membisu mengunci mulutnya.
“Apa sih?” Andre menginterogasi.
“Nggak! Nggak ada!” Caca dengan beringsut berjalan meninggalkan Andre.
“Caca! Kamu apaan sih!” Andre mengejarnya keluar.
Ada dua mata yang mengamati mereka dari jauh. Masih memperhatikan mereka tanpa terlihat. Dia bagaikan sosok rahasia yang tak pernah ingin muncul. Masih ingin menjadi surprise yang tidak ingin diketahui.
“Caca,” suara itu bergetar.
“Apa sih?” Andre menginterogasi.
“Nggak! Nggak ada!” Caca dengan beringsut berjalan meninggalkan Andre.
“Caca! Kamu apaan sih!” Andre mengejarnya keluar.
Ada dua mata yang mengamati mereka dari jauh. Masih memperhatikan mereka tanpa terlihat. Dia bagaikan sosok rahasia yang tak pernah ingin muncul. Masih ingin menjadi surprise yang tidak ingin diketahui.
“Caca,” suara itu bergetar.
—
Jam dua belas tepat saat guru bahasa masuk ke kelas mereka. Caca dan Andre masih sibuk dengan makan siang mereka saat guru itu duduk di meja guru. Dengan sekali ketukan meja semua perhatian di kelas itu tertuju ke satu titik. Tentu saja ke arah meja guru.
“Untuk kali ini, kalian akan melakukan tugas berpasangan,” suara guru itu mengalun.
“Tugasnya apa Bu?” tanya seorang gadis berbadan tambun yang duduk tepat di depan meja guru.
“Puisi berpasangan,” terang guru itu. Andre mengkode Caca, gadis itu mengangguk setuju. Andre menghela napasnya dengan lega karena Caca akan jadi pasangan yang bisa diandalkan olehnya nanti. Di luar kelegaan Andre suasana kelas jadi sedikit riuh dengan tugas itu. Akhirnya guru itu mengetuk meja sekali lagi.
“Tugasnya apa Bu?” tanya seorang gadis berbadan tambun yang duduk tepat di depan meja guru.
“Puisi berpasangan,” terang guru itu. Andre mengkode Caca, gadis itu mengangguk setuju. Andre menghela napasnya dengan lega karena Caca akan jadi pasangan yang bisa diandalkan olehnya nanti. Di luar kelegaan Andre suasana kelas jadi sedikit riuh dengan tugas itu. Akhirnya guru itu mengetuk meja sekali lagi.
“Pasangan kalian Ibu yang tentukan!” ucapnya kemudian. Andre dan seluruh isi kelas kecewa.
“Yah! Ibu!” keluh semua manusia itu.
“Caroline dan Vinandra.. Andreas dan Emilia,” suara guru itu mulai menyebut nama muridnya satu per satu.
Caca menatap Andre kecewa, Andre juga melakukan hal yang sama. Lalu kepala mereka tersandar ke meja dengan lemas. Namun suara guru itu kembali mengarahkan para muridnya untuk duduk berdampingan dengan pasangan masing-masing, membuat mereka terpaksa bergerak. Itu adalah dua jam terpanjang dalam satu hari bagi mereka.
“Yah! Ibu!” keluh semua manusia itu.
“Caroline dan Vinandra.. Andreas dan Emilia,” suara guru itu mulai menyebut nama muridnya satu per satu.
Caca menatap Andre kecewa, Andre juga melakukan hal yang sama. Lalu kepala mereka tersandar ke meja dengan lemas. Namun suara guru itu kembali mengarahkan para muridnya untuk duduk berdampingan dengan pasangan masing-masing, membuat mereka terpaksa bergerak. Itu adalah dua jam terpanjang dalam satu hari bagi mereka.
“Ca.. kamu bisa kan?” tanya Vin setelah Caca duduk di sebelahnya.
“Nggak terlalu sulit,” jawab Caca lalu mulai menggoreskan pensilnya.
Di sisi lain Andre sedang berdamai dengan hatinya. Dia mencoba untuk berkonsentrasi dengan apa yang sedang dilakukannya. Mili yang sedari tadi menyadari kegundahan Andre hanya bisa menghela napasnya panjang.
“Cuma dua jam aja, Ndre. Kamu harus konsen,” ucap Mili kemudian.
“Iya konsen. Lagian cuma teman.. nggak ada hak buat nggak suka,” Andre menarik buku tulisnya mendekat sambil menggumam tak jelas.
“Nggak terlalu sulit,” jawab Caca lalu mulai menggoreskan pensilnya.
Di sisi lain Andre sedang berdamai dengan hatinya. Dia mencoba untuk berkonsentrasi dengan apa yang sedang dilakukannya. Mili yang sedari tadi menyadari kegundahan Andre hanya bisa menghela napasnya panjang.
“Cuma dua jam aja, Ndre. Kamu harus konsen,” ucap Mili kemudian.
“Iya konsen. Lagian cuma teman.. nggak ada hak buat nggak suka,” Andre menarik buku tulisnya mendekat sambil menggumam tak jelas.
—
“Aku suka kamu,” suara Andre tertahan.
“Wahaha..,” Caca terbahak.
“Kok ketawa?” Andre menatap Caca bingung.
Kertas warna pink itu membuatnya bergidik. Baru kali ini seorang Andre menemukan kertas yang jelas-jelas ditujukan padanya. Untuk seorang Andreas yang tak pernah diperhatikan sekarang jadi seorang yang diperhatikan seseorang. Setelah membacanya dia merasa aneh.
“Andre punya penggemar rahasia nih,” ledek Caca kemudian.
“Kok bisa?” tanya Andre.
“Wahaha..,” Caca terbahak.
“Kok ketawa?” Andre menatap Caca bingung.
Kertas warna pink itu membuatnya bergidik. Baru kali ini seorang Andre menemukan kertas yang jelas-jelas ditujukan padanya. Untuk seorang Andreas yang tak pernah diperhatikan sekarang jadi seorang yang diperhatikan seseorang. Setelah membacanya dia merasa aneh.
“Andre punya penggemar rahasia nih,” ledek Caca kemudian.
“Kok bisa?” tanya Andre.
“Andre.. seorang cowok itu wajar ada yang naksir. Jadi jangan kaget ya,” Caca menepuk pundaknya sebentar lalu pergi. Andre mengekori Caca sampai ke dalam kelas. Caca langsung menuju ke bangkunya begitu juga dengan Andre. Tangan keduanya sibuk mengeluarkan baju olah raga untuk menyambut jam pertama, Ya.. jadwalnya penjaskes.
“Ca.. ini bener kan?” tanya Vin menghampiri Caca.
“Ya.. itu bener kok. Kapan diprint?” tanya Caca.
“Nanti sepulang sekolah,” jawab Vin.
“Oke,” Caca tersenyum ke arah Vin. Vin membalasnya.
“Ca.. ini bener kan?” tanya Vin menghampiri Caca.
“Ya.. itu bener kok. Kapan diprint?” tanya Caca.
“Nanti sepulang sekolah,” jawab Vin.
“Oke,” Caca tersenyum ke arah Vin. Vin membalasnya.
Andre menatap Vin dengan sinis. Terlihat ekpresi tak biasa yang amat sangat terlihat, seperti cemburu. Tiba-tiba Mili menghampiri meja Andre dan memberikan sebuah kertas padanya. Andre terkejut dan hampir menjatuhkan tasnya ke lantai, Mili menangkap tas itu.
“Ndre? Masih pagi udah nggak baik nih?” selidik Mili.
“Mendadak panas,” Mili kaget dengan tanggapan Andre.
“Katanya cuma teman?” Mili menyindir.
“Iya.. Cuma teman.. tapi itu dulu,” sahut Andre.
“Ndre? Masih pagi udah nggak baik nih?” selidik Mili.
“Mendadak panas,” Mili kaget dengan tanggapan Andre.
“Katanya cuma teman?” Mili menyindir.
“Iya.. Cuma teman.. tapi itu dulu,” sahut Andre.
—
Caca mendadak pusing mendengar ocehan Andre yang tiba-tiba berlebihan soal Vin. Mulut Andre yang sedari tadi tidak bisa berhenti mengungkap setiap detil tentang Vin membuatnya bosan. Caca menggebrak meja dengan keras, Itu akhirnya yang membuat Andre berhenti bicara.
“Kamu kenapa sih?” Caca melontarkan pertanyaannya dengan ketus.
“Enggak.. aku nggak suka aja kamu dekat-dekat sama Vin,” Andre tertunduk.
“Kamu siapa berhak melarangku dekat sama siapa aja?” suara Caca kesal.
“Aku,” suara Andre tertahan kebingungan menjelaskan.
“Kamu kenapa sih?” Caca melontarkan pertanyaannya dengan ketus.
“Enggak.. aku nggak suka aja kamu dekat-dekat sama Vin,” Andre tertunduk.
“Kamu siapa berhak melarangku dekat sama siapa aja?” suara Caca kesal.
“Aku,” suara Andre tertahan kebingungan menjelaskan.
“Kamu cuma temanku, Ndre!” Caca dengan beringsut pergi meninggalkan kantin.
“Iya aku memang temanmu, Ca. Makanya aku ingetin kamu,” Andre mengikuti kepergian Caca dengan matanya.
“Kami itu cuma ngerjain tugas. Makanya kami lebih dekat!” teriak Caca dari kejauhan.
Andre terpaku menatap Caca yang menghilang di balik koridor. Sekejap dia menyadari apa yang salah dengan dirinya, terlalu berlebihan. Dia tak bisa menyalahkan siapa pun atas semua salahnya sendiri, terlalu gegabah dengan membuat Caca marah. “Ca.. aku nggak bermaksud,” ucap Andre lemah.
“Iya aku memang temanmu, Ca. Makanya aku ingetin kamu,” Andre mengikuti kepergian Caca dengan matanya.
“Kami itu cuma ngerjain tugas. Makanya kami lebih dekat!” teriak Caca dari kejauhan.
Andre terpaku menatap Caca yang menghilang di balik koridor. Sekejap dia menyadari apa yang salah dengan dirinya, terlalu berlebihan. Dia tak bisa menyalahkan siapa pun atas semua salahnya sendiri, terlalu gegabah dengan membuat Caca marah. “Ca.. aku nggak bermaksud,” ucap Andre lemah.
—
Semenjak hari itu Caca diam. Dia tidak pernah menyapa Andre, dia menjauhinya. Setiap melihat ataupun bertemu dengan Andre Caca terkesan cuek. Saat berhadapan dengan Andre dia juga mengacuhkannya. Caca diam.
“Vin..di luar aja yuk,” Caca menarik tangan Vin dengan paksa.
“Kita jadi bahas ini lagi?” Mili menepuk pundak Andre yang menatap kepergian Caca.
“Iya.. kita bahas lagi,” mulutnya menjawab Mili tapi matanya masih fokus ke arah Caca.
“Ndre.. kamu sadar nggak sih ada yang perhatian sama kamu?” tanya Mili tiba-tiba. Andre menoleh.
“Vin..di luar aja yuk,” Caca menarik tangan Vin dengan paksa.
“Kita jadi bahas ini lagi?” Mili menepuk pundak Andre yang menatap kepergian Caca.
“Iya.. kita bahas lagi,” mulutnya menjawab Mili tapi matanya masih fokus ke arah Caca.
“Ndre.. kamu sadar nggak sih ada yang perhatian sama kamu?” tanya Mili tiba-tiba. Andre menoleh.
“Aku sadar.. tiap hari ada yang ngasih sesuatu dan surat aneh yang nggak tahu dari mana,” jelas Andre.
“Udah dicari tahu?” tanya Mili lagi. Andre menggeleng.
“Kenapa nggak?” Mili penasaran.
“Karena aku menganggapnya cuma teman,” sahut Andre.
“Teman?” suara Mili kecewa. Sejenak Mili terdiam, Andre menatapnya bingung. Dalam benaknya ada berbagai macam spekulasi yang berputar-putar. Andre membuka mulutnya perlahan-lahan, sepertinya ingin meralatnya. Dan benar saja, dia mulai bicara.
“Udah dicari tahu?” tanya Mili lagi. Andre menggeleng.
“Kenapa nggak?” Mili penasaran.
“Karena aku menganggapnya cuma teman,” sahut Andre.
“Teman?” suara Mili kecewa. Sejenak Mili terdiam, Andre menatapnya bingung. Dalam benaknya ada berbagai macam spekulasi yang berputar-putar. Andre membuka mulutnya perlahan-lahan, sepertinya ingin meralatnya. Dan benar saja, dia mulai bicara.
“Karena aku hanya melihat suratnya, belum ketemu orangnya,” Jelas Andre.
“Kamu udah ketemu orangnya, Ndre,” terang Mili.
“Beneran? Siapa? Apa aku kenal?” Andre tampak antusias.
“Orang itu.. Aku,” wajah Mili menunduk dalam.
“Mili.. aku.. nggak bisa nerima perasaan kamu,”
“Kamu udah ketemu orangnya, Ndre,” terang Mili.
“Beneran? Siapa? Apa aku kenal?” Andre tampak antusias.
“Orang itu.. Aku,” wajah Mili menunduk dalam.
“Mili.. aku.. nggak bisa nerima perasaan kamu,”
“Kamu harus jujur sama Andre, Ca,” Vin mengaduk es degannya lagi.
“Aku nggak bisa jujur sama dia Vin. Mili suka sama dia,” Vin menoleh pada Caca bingung.
“Hah? Kamu tahu dari mana?” tanyanya tak percaya.
“Kemarin pas pulang sekolah.. Mili cerita semuanya.. semuanya ke aku,” Caca menghembuskan napasnya berat.
“Aku nggak bisa jujur sama dia Vin. Mili suka sama dia,” Vin menoleh pada Caca bingung.
“Hah? Kamu tahu dari mana?” tanyanya tak percaya.
“Kemarin pas pulang sekolah.. Mili cerita semuanya.. semuanya ke aku,” Caca menghembuskan napasnya berat.
Vin menatap Caca sebentar, lalu mengambil tahu isi di depannya. Caca yang tidak tahu maksud dari Vin hanya memperhatikannya dengan penuh tanda tanya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Vin dengan dua buah tahu isi di tangannya. “Kamu lihat tahu isi ini.. kalau kamu nggak buka tahunya apa kamu tahu isinya?” Caca menggeleng.
“Apa hubungannya sama tahu isi?” Caca bingung.
“Apa hubungannya sama tahu isi?” Caca bingung.
“Caca! Ini perumpamaan!” Vin jengkel. Caca mengangguk.
“Teruskan,” pintanya.
“Kamu harus buka tahu isi ini baru melihat isinya,” Vin membuka tahu isi itu dan menemukan tauge beserta bihun di dalamnya. Caca berpikir sejenak lalu mulai mengangguk.
“Maksud kamu aku harus cari tahu dulu perasaan Andre ke aku?” Vin mengangguk.
“Nah! Itu tahu!” Caca tersenyum.
“Makasih Vin!” Vin membalas senyuman Caca.
“Sama-sama,”
“Teruskan,” pintanya.
“Kamu harus buka tahu isi ini baru melihat isinya,” Vin membuka tahu isi itu dan menemukan tauge beserta bihun di dalamnya. Caca berpikir sejenak lalu mulai mengangguk.
“Maksud kamu aku harus cari tahu dulu perasaan Andre ke aku?” Vin mengangguk.
“Nah! Itu tahu!” Caca tersenyum.
“Makasih Vin!” Vin membalas senyuman Caca.
“Sama-sama,”
—
Hari berikutnya Andre berdiri di depan pintu gerbang rumah Caca. Andre masih memikirkan kata-kata Mili kemarin, beberapa kata yang masih terngiang di dalam kepalanya. Kata-kata yang sedikit mengganggunya.
“Ndre?” Caca membuka pintu dan kaget saat menemukan Andre.
“Ca,” tiba-tiba Andre tak bisa bicara.
“Kamu ngapain di sini?” tanyanya bingung.
“Anu.. Ca..Anu,” jawab Andre tak jelas.
“Jemput aku?” tebak Caca.
“Iya,” Andre mengangguk.
“Ndre?” Caca membuka pintu dan kaget saat menemukan Andre.
“Ca,” tiba-tiba Andre tak bisa bicara.
“Kamu ngapain di sini?” tanyanya bingung.
“Anu.. Ca..Anu,” jawab Andre tak jelas.
“Jemput aku?” tebak Caca.
“Iya,” Andre mengangguk.
Suasana berubah canggung sebentar. Caca masih terdiam di depan gerbang dan Andre di samping motornya. Di antara mereka tidak ada yang mengeluarkan kata-kata. Jadi sedikit aneh jika sebenarnya Andre orang yang jenaka.
“Maaf Ca.. waktu itu aku nggak bermaksud,” Andre membuka suara.
“Aku maafin,” Caca langsung menyambungnya.
“Dan.. buat itu.. aku nggak bisa mengangap kamu cuma teman,” Caca mengerutkan keningnya.
“Apa?” tanyanya bingung.
“Mili..dia yang jadi penggemar rahasiaku selama ini. Dia udah bilang semuanya ke aku. Tapi aku nggak bisa nerima perasaan dia. Karena dia aku anggap cuma teman,” jelas Andre. “Jadi?” Caca menatap Andre bingung.
“Meskipun aku nggak bisa nerima dia. Seenggaknya dia minta aku jujur ke kamu.. kalau aku nggak bisa mengganggap kamu cuma teman,” lanjutnya.
“Maaf Ca.. waktu itu aku nggak bermaksud,” Andre membuka suara.
“Aku maafin,” Caca langsung menyambungnya.
“Dan.. buat itu.. aku nggak bisa mengangap kamu cuma teman,” Caca mengerutkan keningnya.
“Apa?” tanyanya bingung.
“Mili..dia yang jadi penggemar rahasiaku selama ini. Dia udah bilang semuanya ke aku. Tapi aku nggak bisa nerima perasaan dia. Karena dia aku anggap cuma teman,” jelas Andre. “Jadi?” Caca menatap Andre bingung.
“Meskipun aku nggak bisa nerima dia. Seenggaknya dia minta aku jujur ke kamu.. kalau aku nggak bisa mengganggap kamu cuma teman,” lanjutnya.
“Em.. terus?” selidik Caca.
“Kamu lebih dari teman buat aku,” ucap Andre.
“Katanya cuma teman?” Caca ketawa.
“Dulu iya. Tapi sekarang rasanya.. enggak,” Andre salah tingkah.
“Wah.. ini sih lebih gawat,” Caca nyengir.
“Kok bisa?” Andre mengerutkan keningnya.
“Pasti tambah over protective,” Caca tertawa lebar.
“Iya sih hehe,” Andre menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Kamu lebih dari teman buat aku,” ucap Andre.
“Katanya cuma teman?” Caca ketawa.
“Dulu iya. Tapi sekarang rasanya.. enggak,” Andre salah tingkah.
“Wah.. ini sih lebih gawat,” Caca nyengir.
“Kok bisa?” Andre mengerutkan keningnya.
“Pasti tambah over protective,” Caca tertawa lebar.
“Iya sih hehe,” Andre menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
The End
